Blitar (beritajatim.com) – Siapa bilang membangun bisnis fashion harus dimulai dengan mesin pabrik bernilai puluhan juta rupiah? Di tangan warga belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Pratama Kota Blitar, sebuah setrika rumah tangga kini disulap menjadi mesin pencetak rupiah.
Melalui pelatihan sablon teknik Direct to Film (DTF) yang digelar pada Kamis (12/3/2026), PKBM Tunas Pratama meluncurkan kampanye kreatif yakni mencari cuan dari dalam kamar tidur. Momentum ini sengaja diambil untuk menyambut geliat pasar menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepala Sekolah PKBM Tunas Pratama, Joko Pramono, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar mengisi waktu luang. Baginya, ini adalah langkah konkret untuk mematahkan stigma bahwa memulai usaha itu sulit dan mahal.
“Hanya modal setrika di rumah, bisa jadi cuan dan ekonomi naik level. Siapa bilang mau buka bisnis kaos kustom harus punya modal mesin jutaan rupiah? Di sini kita bongkar rahasianya,” ujar Joko.
Joko menambahkan, target utama program ini adalah para warga belajar usia produktif. Tujuannya jelas yakni membentuk karakter anak muda Blitar yang mandiri, kreatif, dan nasionalis melalui ekonomi kreatif berbasis kerakyatan.
Teknik DTF kini memang tengah naik daun. Berbeda dengan sablon manual yang membutuhkan peralatan rumit dan ruang luas, DTF menawarkan kepraktisan yang luar biasa namun dengan kualitas yang tak kalah saing.
Praktisi sablon DTF asal Blitar, Oeddin Izzoel Haq, yang menjadi narasumber utama, menyebut teknik ini sebagai game changer bagi anak muda yang ingin mulai berbisnis tanpa ribet.
“Bedanya sama sablon manual yang butuh banyak alat, teknik DTF ini beneran ramah buat Gen Z. Cukup pakai stiker cetakan khusus dan setrika rumah tangga, desain keren langsung nempel di kaos atau tas,” terang Izzoel.
Yang paling menarik, menurut Izzoel, adalah efisiensi ruangnya. “Tidak butuh tempat produksi yang luas. Hanya butuh ide kreatifmu, dan semua bisa dikerjakan dari dalam kamar tidur,” tambahnya.
Mendekati momentum Lebaran 1447 H, kebutuhan masyarakat akan pakaian baru yang unik dan personal meningkat tajam. Inilah celah pasar yang ingin disasar oleh para peserta pelatihan.
“Buat kita yang ingin punya penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan hobi, keterampilan sablon DTF ini adalah shortcut paling masuk akal,” seru Izzoel.
Dengan teknik ini, warga belajar PKBM Tunas Pratama kini memiliki bekal untuk memproduksi brand sendiri atau menerima pesanan kaos komunitas, tepat saat masyarakat sedang bersemangat bersolek di hari raya. [owi/aje]






