Ponorogo (beritajatim.com) – Ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di STKIP PGRI Ponorogo menyimak layar dengan saksama pada pagi hari Kamis, 5 Maret 2026. Dari balik koneksi internet masing-masing, mereka bergabung dalam sebuah webinar yang tidak biasa dan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan undangan untuk mengubah kecemasan menjadi karya.
Itulah wajah awal dari Webinar dan Kelas Pendampingan Pembuatan Cerita Pendek Bertema Enlightenment dalam Bahasa Inggris, sebuah program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo.
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo sukses menyelenggarakan Webinar Penulisan Cerita Pendek Bertema Enlightenment pada Kamis, 5 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan Aang Fatihul Islam sebagai pemateri utama.
Webinar tersebut menjadi pembuka dari rangkaian kegiatan yang lebih panjang, yakni Kelas Pendampingan Penulisan Cerita Pendek yang akan berlangsung secara online mulai 6 Maret hingga 6 April 2026. Selama sebulan penuh, peserta akan mendapatkan bimbingan langsung dari empat mentor, yaitu Ratri Harida, M.Pd., Lusy Novitasari, M.Pd., Rizki Mustikasari, M.Pd., dan Cutiana Windri Astuti, M.Pd.
Kelas pendampingan ini hadir sebagai ruang bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan menulis cerita pendek secara terbimbing, dengan tema enlightenment sebagai benang merah yang menghubungkan setiap karya. Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo berkomitmen mendorong budaya literasi dan kreativitas di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.
Bagi banyak mahasiswa, menulis dalam bahasa Inggris bukan sekadar soal tata bahasa atau pilihan kata. Ia adalah pengalaman yang kerap memicu kecemasan: gugup saat diminta menulis, pikiran tiba-tiba kosong, atau rasa takut bahwa karya akan dianggap buruk oleh orang lain. Kegelisahan semacam inilah yang melatarbelakangi lahirnya kegiatan ini. Dengan mengambil pendekatan service learning, tim pengabdi tidak hanya hadir untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk berproses secara emosional dan kreatif. Sebuah perpaduan yang jarang ditemukan dalam kegiatan akademik formal.
Webinar yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB itu terbagi dalam tiga sesi. Sesi pertama dibuka oleh pemateri utama, Aang Fatihul Islam, yang memaparkan konsep anxiety appraisal, pendekatan psikologis untuk mengubah cara pandang terhadap kecemasan. Ia menegaskan bahwa kecemasan menulis bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan sinyal yang bisa dikelola dan bahkan diubah menjadi energi kreatif.
“Kecemasan menulis itu wajar. Yang membedakan penulis yang berkembang bukan absennya kecemasan, tapi bagaimana mereka belajar berdamai dengannya dan menjadikannya bahan bakar untuk berkarya,” kata Aang Fatihul Islam, Pemateri Utama Webinar, Kamis (12/3/2026).
Pernyataan itu disambut antusias oleh peserta, dan menjadi pijakan bagi sesi kedua yang diisi oleh keempat dosen pendamping: Ratri Harida, Lusy Novitasari, Rizki Mustikasari, dan Cutiana Windri Astuti. Keempat dosen ini menyampaikan teknik praktis penulisan cerita pendek berbahasa Inggris. Mulai dari cara membangun karakter yang mengalami arc pencerahan (enlightenment), menyusun plot yang efektif, hingga memilih kosakata yang mengekspresikan emosi secara autentik. Sesi ketiga pun menjadi ruang tanya jawab yang hidup: bagaimana memulai tulisan saat pikiran kosong, bagaimana menulis tanpa terlalu khawatir soal grammar, hingga bagaimana menemukan ‘momen pencerahan’ dari kehidupan nyata yang bisa dijadikan bahan cerita. Webinar ini sekaligus menjadi pengantar menuju rangkaian kelas pendampingan selama satu bulan penuh.
Berbeda dari webinar yang bersifat massal, Kelas Pendampingan dirancang sebagai ruang yang lebih personal dan intensif. Berlangsung dari 6 Maret hingga 6 April 2026 secara daring, kelas ini dipandu oleh keempat mentor yang sama. Pendampingan dibagi ke dalam empat tahap mingguan yang saling berkesinambungan. Minggu pertama berfokus pada orientasi dan brainstorming. Yakni peserta diajak mengenali pengalaman kecemasan personal mereka sendiri sebagai bahan inspirasi cerita, lalu menyusun peta ide dan outline dengan bimbingan mentor.
Memasuki minggu kedua, peserta mulai menulis draf pertama cerita pendek sepanjang 500–800 kata dalam bahasa Inggris. Mentor memberikan umpan balik awal yang menyentuh tiga hal, yakni kesesuaian tema, koherensi narasi, dan penggunaan bahasa. Minggu ketiga menjadi fase paling intens, saat diskusi dua arah antara mentor dan peserta tidak hanya membahas aspek kebahasaan, tetapi juga dimensi naratif dan reflektif. Peserta didorong mengaitkan perjalanan karakter fiksi dalam cerita mereka dengan pengalaman nyata menghadapi kecemasan, sebuah proses yang oleh para ahli disebut sebagai cognitive reappraisal. Yakni mengubah cara pandang terhadap situasi yang selama ini dirasa mengancam. Minggu keempat menutup rangkaian dengan sesi presentasi dan refleksi terstruktur, di mana setiap peserta berbagi karya sekaligus proses kreatif yang telah mereka jalani.
“Awalnya saya tidak percaya bisa menulis cerita dalam bahasa Inggris. Tapi ternyata ketika temanya dari pengalaman sendiri, kata-katanya mengalir lebih mudah. Saya merasa menulis itu seperti bercermin,” salah satu peserta Kelas Pendampingan.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari empat program studi: Pendidikan Bahasa Inggris (39%), PG PAUD (27%), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (23%), dan Pendidikan Bahasa Jawa (11%). Keberagaman latar belakang ini justru memperkaya dinamika kelas — masing-masing peserta membawa perspektif unik yang mewarnai cerita yang dihasilkan. Data kuesioner yang dikumpulkan sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan dampak yang nyata: pengetahuan peserta tentang strategi mengatasi kecemasan menulis meningkat signifikan, kekhawatiran terhadap penilaian orang lain menurun, dan 46% peserta melaporkan motivasi yang lebih tinggi untuk menulis cerita pendek.
Di balik angka-angka itu, ada pilihan tema yang cermat. Dalam tradisi sastra, enlightenment atau pencerahan merujuk pada momen transformatif saat seorang karakter tiba-tiba memperoleh pemahaman baru tentang diri sendiri atau dunia di sekitarnya. Tema ini sengaja dipilih karena secara metaforis sejajar dengan proses anxiety appraisal — keduanya berbicara tentang perubahan cara pandang: dari yang semula dipenuhi kekhawatiran menuju perspektif yang lebih jernih dan adaptif. Dengan menulis karakter yang mengalami pencerahan, peserta secara tidak langsung diajak memproyeksikan perjalanan emosional mereka sendiri ke dalam narasi yang terasa aman. Menulis tentang karakter yang ‘berhasil menembus kegelapan’ bisa menjadi cara yang kuat untuk meyakinkan diri bahwa kita pun mampu melakukan hal yang sama.
Seluruh karya yang dihasilkan selama pendampingan akan dikompilasi menjadi sebuah antologi cerita pendek bertema enlightenment berbahasa Inggris — bukti nyata kemampuan mahasiswa sekaligus sumber inspirasi bagi pelajar lain yang ingin menjadikan penulisan kreatif sebagai sarana mengelola kecemasan akademik. Di samping itu, tim pengabdi juga tengah menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal pengabdian masyarakat terakreditasi, sebagai bentuk pertanggungjawaban akademis sekaligus kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan bahasa dan psikologi belajar.
Ketua tim pengabdi, Ratri Harida, menyampaikan harapannya agar program serupa dapat terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya ke perguruan tinggi lain di Karisidenan Madiun. Ia menegaskan bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan teks yang benar secara gramatikal, tetapi juga tentang keberanian untuk mengekspresikan diri dan menemukan suara sendiri, dalam bahasa apa pun, termasuk bahasa Inggris
“Kami ingin mahasiswa tahu bahwa kecemasan itu bagian dari proses belajar, bukan tanda bahwa mereka tidak mampu. Melalui menulis cerita, kami mengajak mereka untuk mengubah kecemasan itu menjadi karya,” kata Ratri Harida, yang juga merupakan Ketua Tim Pengabdi. [end/aje]






