Surabaya (beritajatim.com) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menemukan 70 remaja Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup daring True Crime Community (TCC). Mereka aktif berbagi konten sadis dan diskusi radikal di ruang digital tersebut.
Fenomena ini mengungkap rapuhnya pertahanan generasi muda terhadap infiltrasi kekerasan. Sebagian besar anggota komunitas tersebut diketahui merupakan penyintas perundungan serta korban keretakan rumah tangga atau broken home.
Kepala Lab Psikodiagnostik Untag Surabaya, Ricky Alejandro Martin, menyebut usia remaja sangat rentan terhadap pengaruh eksternal. Lingkungan negatif memicu mereka mencari pelarian di jagat maya yang tidak terkontrol.
Ia menilai kondisi psikologis yang tidak stabil mempermudah proses indoktrinasi yang sangat berbahaya. “Remaja menjadi mangsa empuk bagi komunitas TCC untuk menanamkan ideologi,” ujar Ricky, Senin (9/3/2026).
Kurangnya peran aktif orang tua membuat remaja kehilangan figur pengarah. Kondisi ini memotivasi mereka mencari ‘rumah lain’ demi mendapatkan validasi dan rasa aman, meskipun di tempat yang salah.
Ricky menegaskan bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kehangatan emosional. Tanpa itu, remaja berisiko tinggi terjerumus ke dalam lingkaran ideologi kekerasan yang merusak masa depan dan kepribadiannya.
Menurutnya, rehabilitasi profesional sangat krusial untuk memutus rantai paparan ideologi tersebut secara permanen. “Upaya penanganan tidak boleh hanya bersifat formalitas, namun harus dilakukan secara ketat dan terukur,” tegasnya.
Penanganan komprehensif diperlukan untuk mencegah manifestasi perilaku kekerasan di kehidupan nyata. Kolaborasi antara keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam meredam fenomena yang mengkhawatirkan ini. [ipl/beq]






