Jember (beritajatim.com) – Antrean warga yang terjadi di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipicu oleh masih adanya trauma kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Antrean terjadi sejak Kamis (5/3/2026), menyusul kabar bahwa stok BBM di Indonesia hanya bertahan 21-23 hari. “Mungkin masyarakat Jember ada rasa trauma dengan kelangkaan BBM tahun lalu,” kata Ketua Himpunan Wirawaswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Besuki, Ikbal Wilda Fardana, Sabtu (7/3/2026).
Antrean warga Jember yang berburu BBM di SPBU-SPBU pernah terjadi pada medio Juli-Agustus 2025.
“Tahun lalu (kelangkaan terjadi) karena ada kendala pengiriman atau pendistribusian BBM ke Jember, dengan adanya perbaikan jalur Banyuwangi-Jember di Gumitir maupun kemacetan jalur Pantura pasca karamnya kapal Tunu Pratama Jaya,” kata Ikbal.
“Sekarang ini berbeda. Stok BBM aman, pengiriman tidak ada kendala sama sekali. Artinya bisa dipastikan ketersediaan stok BBM di setiap SPBU do seluruh Kabupaten Jember aman,” kata Ikbal.
Jika saat ini masih ada SPBU yang mengalami kekosongan persediaan, menurut Ikbal, itu dikarenakan permintaan berlebih warga. “SPBU diserbu masyarakat dan proses pengirimannya membutuhkan waktu. Tapi saya pastikan stok setiap hari ada,” katanya.
Sub Branch Manager (SBM) Pertamina JemberAndi Reza mengatakan, saat ini stok Pertalite di Jember 584 ton dan Pertamax 279 ton. Jumlah ini bertambah dengan suplai dari Pertamina.
Menurut Bupati Muhammad Fawait, ada tambahan 100 ribu liter BBM dari Pertamina, Jumat (6/3/2026). “Dan hari ini ada tambahan 300 ribu liter lagi,” katanya.
Sementara itu berdasarkan pantauan Hiswanamigas di lapangan, antrean SPBU di luar kawasan perkotaan mulai menurun. “Kalau pun di kota ada antrean panjang, itu karena luas lahan SPBU berbeda-beda,” kata Ikbal.
“SPBU di Jalan Ahmad Yani, misalnya, kan kecil, sehingga ketika ada antrean bisa memanjang sampai ke jalan. Tapi kalau lahannya luas, antrean tidak sampai menimbulkan kemacetan,” kata Ikbal. [wir]






