Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meresmikan instalasi air bersih inovatif di Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (6/3/2026). Proyek ini ditujukan untuk memulihkan akses air bersih bagi warga terdampak bencana banjir bandang.
Wakil Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan (PILB) ITS, Catur Arif Prastyanto, menyebut lokasi dipilih berdasarkan diskusi intensif bersama Universitas Syiah Kuala (USK). Kedekatan dengan sumber air baku menjadi pertimbangan teknis utama tim lapangan.
“Penentuan lokasi di Kabupaten Pidie Jaya mempertimbangkan kedekatan dengan sumber air baku serta kemudahan operasional dan perawatan,” ujar Catur.
Sistem rancangan pakar Teknik Lingkungan ITS ini mampu memurnikan air sungai hingga kapasitas 2.000 liter per jam. Alat itu didesain khusus agar beroperasi secara stabil selama 8 hingga 10 jam setiap harinya.
Teknologi ini menerapkan prinsip elektrokoagulasi untuk menurunkan tingkat kekeruhan tanpa campuran bahan kimia sama sekali. Proses pemurnian kemudian disempurnakan melalui sistem filtrasi membran untuk menjamin kualitas air bersih yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Karena tidak menggunakan bahan kimia untuk menurunkan kekeruhan yang tinggi, biaya operasionalnya menjadi sangat murah,” ungkap Catur.
Proyek ini merupakan hasil sinergi PILB ITS bersama Alumni Teknik Sipil (ALSITS) dan IKA Teknik Lingkungan. Sejumlah mitra industri konstruksi nasional papan atas turut menyokong pendanaan penuh bagi pembangunan instalasi kemanusiaan tersebut.
Para santri di lokasi pesantren telah menerima pelatihan teknis operasional secara langsung dari tim ahli. Pemeliharaan alat dirancang sederhana, mencakup pembersihan lumpur rutin serta penggantian elektroda secara berkala oleh pengelola setempat.
Inovasi ini diharapkan menjadi warisan kesehatan jangka panjang bagi kualitas hidup warga Pidie Jaya. Langkah strategis tersebut selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) mengenai jaminan ketersediaan air bersih dan sanitasi layak.
“Harapan kami, alat ini dapat diproduksi sepenuhnya di dalam negeri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat luas,” pungkas Catur. [ipl/but]






