Madiun (beritajatim.com) – Pengawasan makanan berbuka puasa mulai diperketat selama Ramadan. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya melakukan sidak dan pengujian sejumlah takjil yang dijual pedagang di kawasan Alun-alun Caruban, Kabupaten Madiun, Kamis (5/3/2026).
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas mengambil puluhan sampel makanan dan minuman dari lapak pedagang yang berjejer di sepanjang Jalan MT Haryono, Kecamatan Mejayan. Dari hasil uji cepat di lokasi, dua sampel kerupuk menunjukkan indikasi mengandung boraks.
Kepala BBPOM Surabaya, Yudi Noviandi, mengatakan pengawasan ini dilakukan untuk memastikan jajanan yang dijual kepada masyarakat aman dikonsumsi, terutama saat Ramadan ketika permintaan takjil meningkat.
“Total ada sekitar 30 sampel makanan dan minuman yang kami uji langsung di tempat. Tujuannya untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahan berbahaya seperti boraks, formalin maupun pewarna yang tidak diizinkan,” ujarnya.
Berbagai jenis takjil yang diperiksa antara lain martabak, dimsum, bakso, tahu, pentol, sempol, sushi, botok, sosis ikan, hingga minuman cincau dan aneka sate.
Dari hasil pemeriksaan sementara, sebagian besar sampel dinyatakan aman. Namun dua sampel kerupuk menunjukkan reaksi yang mengarah pada dugaan kandungan boraks sehingga perlu pemeriksaan lanjutan di laboratorium.
“Temuan ini masih bersifat indikasi dari uji cepat. Untuk memastikan ada tidaknya boraks, sampel akan kami bawa ke laboratorium untuk pengujian lebih detail,” jelasnya.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Madiun agar dapat ditindaklanjuti bersama perangkat daerah terkait, khususnya dalam pembinaan kepada para pelaku usaha pangan.
Yudi juga mengingatkan pedagang agar tidak menggunakan bahan tambahan yang dilarang. Ia menegaskan boraks sering disalahgunakan untuk membuat makanan lebih kenyal atau renyah, padahal zat tersebut berbahaya bagi kesehatan.
“Penggunaan boraks pada pangan jelas dilarang karena bisa berdampak buruk jika dikonsumsi terus-menerus, salah satunya berisiko merusak organ tubuh seperti ginjal,” katanya.
Sementara itu, salah satu pedagang takjil di kawasan tersebut, Sri Utami, mengaku tidak keberatan dengan pengambilan sampel oleh petugas. Menurutnya, langkah pengawasan justru memberikan rasa aman bagi pedagang dan pembeli.
“Tadi beberapa dagangan saya juga ikut dicek, seperti wader, baby crab, usus dan jamur. Saya senang kalau ada pemeriksaan seperti ini karena pembeli jadi lebih percaya,” tuturnya. [rbr/suf]






