Banyuwangi (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin panen raya jagung kuartal IV di areal Green Farm, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Senin (2/3/2026). Didampingi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Khofifah menegaskan posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan utama nasional.
Capaian produksi jagung pipilan kering Jawa Timur pada 2025 tercatat menyentuh angka 4,8 juta ton. Jumlah tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai kontributor tertinggi yang memasok hampir 30 persen atau sepertiga dari total kebutuhan jagung nasional.
“Jawa Timur sudah melewati ketahanan pangan dan saat ini menuju kedaulatan pangan. Ini berkat kolaborasi semua pihak,” kata Khofifah.
Dominasi Jawa Timur terlihat dari selisih angka produksi yang mencapai hampir dua kali lipat dibandingkan Jawa Tengah di posisi kedua dengan 2,8 juta ton. Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh Sumatera Utara dengan total produksi sebesar 1,3 juta ton.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melaporkan bahwa wilayahnya konsisten mencatat surplus jagung yang signifikan setiap tahun. Pada 2025, produksi jagung di Banyuwangi mencapai 250.596,81 ton, naik tajam sebesar 19 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Dengan kebutuhan daerah yang hanya sebesar 69.842,31 ton, Kabupaten Banyuwangi mengantongi surplus jagung sebesar 180.754,50 ton. Selain jagung, komoditas beras di wilayah ini juga mencatatkan surplus besar mencapai 383.258,03 ton pada periode yang sama.
“Alhamdulillah Banyuwangi selalu surplus. Saya bangga atas kerja keras seluruh pihak, mulai dari petani, pemerintah daerah, hingga jajaran kepolisian dan TNI. Semoga panen ini membawa berkah dan semangat baru untuk terus meningkatkan produksi,” kata Ipuk.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto memberikan apresiasi atas sinergi yang terjalin dalam menjaga stabilitas pangan di Jawa Timur. Pihaknya berkomitmen untuk memperkuat dukungan pada sektor pemasaran agar hasil produksi yang melimpah berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
“Ke depan, dukungan pemasaran akan kami perkuat agar berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” tuturnya.
Pemilik Green Farm sekaligus Ketua Kwarda Pramuka Jatim, Arum Sabil, menambahkan bahwa panen raya ini dilakukan di atas lahan seluas 50 hektare. Rata-rata produktivitas saat ini mencapai 8 hingga 10 ton jagung gelondongan per hektare dengan standar budidaya modern.
Arum Sabil optimis bahwa melalui evaluasi dan uji coba budidaya yang berkelanjutan, produktivitas pada musim tanam berikutnya dapat ditingkatkan. Target yang dibidik adalah mencapai angka 10 hingga 12 ton per hektare guna memperkuat kedaulatan pangan di Jawa Timur.
“Berbagai uji coba budidaya terus kami lakukan. Hasil dari evaluasi, kami optimistis pada musim tanam berikutnya produktivitas bisa meningkat hingga 10-12 ton per hektare,” pungkasnya.
Langkah kolaboratif yang melibatkan Gerakan Pramuka hingga aparat penegak hukum ini dinilai Khofifah sebagai model ideal penguatan pangan. Kedaulatan pangan menjadi target utama agar Jawa Timur terus menjadi penopang stabilitas stok nasional secara berkelanjutan. [alr/beq]






