Banyuwangi (beritajatim.com) – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas dengan tingkat fatalitas tinggi di Kabupaten Banyuwangi sepanjang tahun 2026 menjadi perhatian serius jajaran kepolisian setempat.
Kapolresta Banyuwangi, Rofiq Ripto Himawan, menyebut kecelakaan lalu lintas masih menjadi persoalan besar karena telah banyak menelan korban jiwa.
“Sejak awal saya konsen masalah itu, karena tidak ada yang lebih disaster daripada kecelakaan,” ujarnya.
Rofiq menjelaskan, dalam satu tahun hampir 300 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah Banyuwangi. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan dan harus menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, upaya menekan angka kecelakaan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat kepolisian, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Ini menjadi fokus kita bersama, tidak bisa cuma polisinya,” tegasnya.
Ia memaparkan sejumlah faktor penyebab kecelakaan, salah satunya penyempitan badan jalan akibat penggunaan ruang jalan yang tidak sesuai peruntukan. Beberapa ruas jalan kerap dimanfaatkan sebagai area parkir, tempat bongkar muat, hingga lokasi berjualan.
“Kalau di situ bukan tempat untuk jualan jangan sampai digunakan untuk jualan. Harusnya dipakai untuk parkir dan bongkar muat kendaraan, akhirnya bongkar muat dilakukan di pinggir jalan,” jelasnya.
Selain itu, penggunaan fasilitas umum yang tidak sesuai fungsi juga dinilai turut mempersempit jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan. Menurut Rofiq, persoalan lalu lintas erat kaitannya dengan kedewasaan serta kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.
“Karena lalu lintas adalah cermin kepribadian dan tingkat pendidikan masyarakat, ayo kita menjadi masyarakat yang cerdas,” pungkasnya. [ayu/but]






