Surabaya (beritajatim.com)– Di balik ibadah puasa yang berlangsung dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, terdapat siimbol yang mencerminkan ketangguhan, kesabaran, dan kepedulian. Salah satunya tercermin dari unta, hewan gurun yang dikenal tangguh karena mampu bertahan dalam cuaca ekstrem.
Di tengan teriknya matahari dan kondisi alam ekstrem, unta dikenal sebagai hewan yang mampu bertahan tanpa makanan dan air dalam rentan waktu yang lama. Ketangguhan unta menempuh perjalanan jauh dalam cuaca panas dan kekeringan membuatnya sering dianggap sebagai simbol ketangguhan dan kesabaran, nilai yang juga selaras dan ditekankan saat bulan Ramadhan. Tak heran, keberadaan unta mempunyai makna tersendiri dalam budaya masyarakat muslim, khususnya masyarakat gurun timur tengah saat menjalani puasa.
Bagi sebagian masyarakat timur tengah seperti arab, unta tidak hanya sekedar hewan ternah atau alat transportasi, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu aktivitas kerja hingga menjadi sumber pangan seperti susu dan dagingnya yang dikonsumsi.
Saat Ramadhan tiba, peran unta terasa lewat menu berbuka dan sahur sebagai susu. Susu unta biasanya diminum saat berbuka puasa karena rasanya segar dan dipercaya dapat mengembalikan energi dengan cepat setelah seharian berpuasa. Kemudian diminum saat sahur karena dipercaya dapat memberikan energi dan daya tahan tubuh lebih lama saat berpuasa.
Tradisi ini berlangsung turun-temurun dan sekarang juga mulai beradaptasi menjadi lebih modern. Susu unta sekarang tidak hanya disajikan secara tradisional, tetapi juga diolah menjadi produk yang lebih modern seperti minuman kemasan, es krim, yoghurt, keju, dan produk lainnya.
Selain itu, unta juga tampil dalam berbagai festival dan kegiatan budaya yang digelar menjelang atau berlangsungnya Ramadhan. Salah satunya adalah balapan unta yang menjadi hiburan tersendiri dan kebanggan budaya setempat. Di balik keseruannya, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan sosial masyarakat.
Dalam sejarah islam, unta memiliki peran penting yang tak terpisahkan dengan umat pada masa itu. Kisah tentang perjalanan dakwah dan kehidupan awal islam seringkali melibatkan unta sebagai sarana utamanya. Pada masa lalu, unta digunakan sebagai standar nilai dalam berbagai urusan, seperti berzakat dan mahar pernikahan. Hewan gurun ini menjadi simbol kesederhanaan, ketahanan, dan kesabaran yang sangat selaras dengan nilai bulan suci Ramadhan.
Hingga kini, peran unta sangat penting dalam kehidupan masyarakat, terutama saat bulan Ramadhan. Unta tidak hanya hadir sebagai cerita masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai kesederhanaan dan keteguhan seperti yang diajarkan dalam islam. [Wakhdah Alisa Berliana]






