Mojokerto (beritajatim.com) – Apa yang dilakukan mahasiswa saat libur semester? Bagi Fika Andriyawati, momen libur tiga bulan pada 2011 lalu justru menjadi titik awal lahirnya usaha kue kering yang kini berkembang pesat. Perempuan lulusan Kimia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 2011 itu memulai usaha kue kering bersama sang ibu dan kakaknya.
Ibu satu putri tersebut menuturkan, jika saat itu libur semester bertepatan dengan bulan Ramadan dan Lebaran 2011. Di rumah orang tuanya di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, ia mengajak sang ibu dan kakak perempuannya untuk membuat kue kering yang dijual dengan cara dititipkan ke sejumlah toko di sekitar rumahnya.
“Waktu itu libur panjang, pas puasa sampai habis Lebaran. Saya ajak ibu coba bikin kue kering karena Lebaran identik dengan kue kering. Tidak bisa buat kue, saya cari resep dari media sosial dan belajar secara otodidak. Saya titip di toko-toko tidak begitu jalan tapi justru banyak yang pesan langsung,” ungkapnya, Jumat (27/2/2026).
Peluang tersebut dimanfaatkan perempuan 32 tahun ini. Mereka yang pesan langsung dibandingkan menjadi reseller sebagai sarana penjualan kue kering miliknya, ternyata berjalan hingga saat ini. Ia mengaku saat ini, masih Handphone (HP) jadul, omzetnya tembus Rp2 juta. Rumah yang dulunya toko jamu milik orang tua kemudian diberikan kepadanya.
Setelah menikah dengan Arief Sulistya (36) pada 2019, Fika merenovasi tempat tersebut dan mengembangkan usaha kue kering yang diberi nama Avika Cake and Cookies. Di hari biasa, ia memproduksi kue basah, kue hantaran, hingga kue ulang tahun. Sementara saat Ramadan dan Lebaran, fokus utama beralih ke kue kering.
Saat ini, Avika Cake and Cookies memiliki 23 varian produk. Sebanyak 14 varian diproduksi sendiri, diantaranya nastar, kastengel, lidah kucing, sagu keju, kue kacang, putri salju, semprit dahlia, choco cornflakes, palm cheese, vanilla chocochip, thumbprint stroberi, dan egg roll. Selain itu, ada sembilan varian camilan ringan hasil kolaborasi dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Pacet.
Seperti basreng, kacang telur, pastel mini, hingga kacang sembunyi. Dari seluruh produk, Nastar menjadi primadona dan kerap sold out lebih cepat. Menurutnya, keistimewaan Nastar terletak pada selai nanas yang dibuat tanpa tambahan bahan lain. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, Fika mengambil nanas langsung dari petani untuk menjaga kualitas rasa.
“Alhamdulillah, meski pasar terlihat sepi, penjualan tetap stabil karena saya pakai strategi reseller. Strategi ini mulai saya jalankan sejak 2013 dan saat ini saya sudah memiliki sekitar 60 reseller yang tersebar di Mojokerto, mulai dari Trawas, Pungging, Ngoro, Dlanggu, Jatirejo, Mojosari, hingga Kutorejo serta menjangkau Sidoarjo, Jombang, dan Surabaya,” jelasnya.
Para reseller tersebut bertugas mencari pelanggan dan mengambil barang langsung dari tempat produksi. Pada awal Ramadan tahun ini saja, sudah 200 toples kue kering terjual. Sementara pesanan pre-order yang masuk mencapai 800 toples dan diperkirakan terus bertambah hingga mendekati Lebaran mendatang.
“Tahun lalu, total penjualan selama musim Ramadan-Lebaran mencapai 2.000 hingga 3.000 toples. Harga produk bervariasi. Nastar dibanderol mulai Rp36 ribu hingga Rp80 ribu per toples, sedangkan varian lain dijual mulai Rp15 ribu. Kalau momen Ramadan dan Lebaran seperti saat ini, ada 7–8 ibu-ibu yang membantu saya,” ujarnya.
Mereka terdiri dari kalangan saudara dan tetangga sekitar saat momen ramai. Di hari biasa, produksi kue basah dikerjakan bersama ibunya. Sementara saat moment Ramadan dan Lebaran, dikerjakan bersama karyawannya. Kue kering buatannya bahkan pernah dikirim hingga luar pulau, dengan pengiriman terjauh ke Medan.
“Biasanya, pemesanan ditutup lima hari sebelum Lebaran, dan lonjakan permintaan mulai terasa sejak pekan kedua Ramadan. Namanya usaha pasti naik turun tapi saya percaya, kalau ditekuni dan dijalani dengan konsisten, pasti ada jalannya. Saya berharap tahun ini, di moment Ramadan dan Lebaran, pesanan kue kering di saya banyak di tengah banyaknya produk serupa,” pungkasnya.
Dari dapur rumahan di lereng Pacet, Avika Cake and Cookies membuktikan bahwa usaha kecil yang dimulai dari coba-coba saat libur kuliah bisa tumbuh menjadi jaringan bisnis. Usaha yang dibarengi dengan niat tersebut berbuah dengan puluhan reseller dan ribuan pelanggan setiap tahunnya. [tin/aje]






