Surabaya (beritajatim.com) – Puasa Ramadan ternyata bukan sekedar menahan lapar dan haus. Pakar Universitas Airlangga (Unair) menyebut ibadah ini merupakan latihan mental paling ampuh agar emosi tetap stabil di tengah tekanan hidup.
Psikolog Klinis Unair, Dian Kartika Amelia Arbi, menjelaskan puasa memicu peningkatan hormon endorfin. Hormon ‘bahagia’ ini bekerja menurunkan stres secara alami saat seseorang beraktivitas padat atau bermain media sosial. “Pada dasarnya puasa merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri,” ujar Dian dikutip Kamis (26/2/2026).
Baginya, kemampuan menahan godaan menjadi fondasi utama agar kesehatan mental seseorang tetap terjaga dengan baik.
Latihan disiplin ini membantu setiap individu mengenali dorongan emosinya sendiri. Hasilnya, seseorang jadi lebih tangguh menghadapi tekanan pekerjaan atau tumpukan tugas yang biasanya kerap memicu kecemasan.
Meski bukan obat utama gangguan jiwa, puasa efektif menjadi pendukung terapi psikologis. Kondisi tubuh yang lebih sehat lewat stimulasi hormon positif mempermudah proses pemulihan kondisi psikis yang sedang terganggu. “Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang,” tegas Dian.
Kemampuan itu, lanjut Dian, menjadi modal penting bagi setiap orang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup ke depan. [ipl/kun]






