Yogyakarta (beritajatim.com)– Isu pangan kini tak lagi bisa dipandang sebagai urusan satu sektor semata. Persoalan ini menyentuh hajat hidup seluruh manusia dan menjadi agenda global yang menuntut kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Hal tersebut ditegaskan Assistant FAO Representative di FAO Indonesia, Dr. Ir. Ageng Setiawan Herianto kemarin di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam paparannya, Ageng mengungkapkan bahwa sekitar 637 juta orang di dunia mengalami kekurangan pangan setiap tahun, terutama di kawasan Asia Pasifik. Angka tersebut menjadi alarm keras bahwa tantangan ketahanan pangan global masih sangat besar.
Menurutnya, persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada lulusan pertanian. Sistem pangan merupakan ekosistem kompleks yang melibatkan banyak sektor, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
“Ini bukan hanya soal menghasilkan pangan, tetapi bagaimana memastikan distribusi dan aksesnya merata,” ujarnya.
Ageng menjelaskan telah terjadi pergeseran paradigma dalam sistem pangan global. Jika sebelumnya fokus utama adalah feed the world atau sekadar memberi makan untuk mencegah kelaparan, kini orientasinya berkembang menjadi nourish the world.
Artinya, pangan tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah, tetapi juga harus bergizi, sehat, aman, dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Konsep ini mendorong lahirnya sistem pangan yang berorientasi pada healthy diet, dari hulu ke hilir.
Sistem pangan modern mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi yang berkelanjutan. Perubahan ini membuka peluang kolaborasi lintas bidang yang semakin luas.
Salah satu pintu masuk kontribusi generasi muda adalah melalui digitalisasi pertanian (agricultural digitalization). Teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperbaiki rantai pasok pangan.
Lulusan teknik dapat berperan dalam inovasi sistem logistik dan efisiensi distribusi. Lulusan ekonomi dan bisnis dapat memperkuat model pembiayaan dan tata kelola pasar. Sementara lulusan hukum dibutuhkan untuk merancang regulasi dan kebijakan pangan yang adaptif dan berkeadilan.
“Semua disiplin ilmu punya ruang kontribusi dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh,” jelasnya.
Adapun kompetensi yang dibutuhkan di level internasional, Ageng menekankan tiga karakter utama sumber daya manusia unggul:
Berpikir inovatif, karena gagasan adalah modal utama perubahan.
Memahami kebijakan, agar mampu beradaptasi dengan dinamika global.
Membangun jejaring luas, untuk memperkuat kolaborasi dan peluang.
Ia juga mengingatkan pentingnya menunjukkan komitmen dan integritas agar dipercaya dalam kerja sama global.
Selain itu, kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing menjadi kunci agar ide dapat diterima secara luas. Menurutnya, kecerdasan tanpa kemampuan komunikasi akan sulit memberikan dampak nyata.Ketahanan pangan adalah agenda global yang membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang.
Dari produksi hingga pasar, dari kebijakan hingga digitalisasi, setiap lulusan memiliki peran strategis dalam mewujudkan sistem pangan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan inovasi, jejaring kuat, dan komitmen jangka panjang, generasi muda diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi atas tantangan ketahanan pangan dunia. [aje]






