Jombang (beritajatim.com) – Di bawah langit malam yang sunyi, di tepi jalan Jombang Jawa Timur, sebuah tragedi diam-diam merenggut nyawa seorang tukang becak motor, Selasa,
24 Februari 2026, sekitar pukul 21.00 WIB.
Sutauji, seorang pria berusia 60 tahun, yang setiap harinya mengayuh pedal becak motor dengan harapan bahwa setiap langkahnya membawa berkah untuk keluarganya, tidak pernah membayangkan bahwa malam itu akan menjadi yang terakhir bagi dirinya.
Sutauji adalah gambaran nyata dari kemiskinan yang membelit banyak keluarga di Kabupaten Jombang. Setiap harinya, dengan becak motor tua yang menjadi teman setia, ia mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun dalam keterbatasan, ia tetap bertahan, berharap doa-doanya yang dipanjatkan lewat gerakan pedal dapat menghidupi mereka.
Namun, pada malam itu, saat umat Islam tengah menjalani ibadah puasa, Sutauji terjatuh dari becaknya. Dalam keadaan yang tak menentu, saksi mata bernama Hendro, seorang TNI AD yang sedang piket di Markas Kodim 0814, mendekat.
Ia melihat Sutauji yang sebelumnya berhenti di tepi jalan, menundukkan kepala di atas kemudi becaknya seolah sedang tidur. Tetapi, ketika Hendro mendekat untuk memastikan, ia terkejut mendapati tubuh Sutauji tak bergerak. Setelah dicek lebih lanjut, tak ada tanda-tanda kehidupan pada diri pria tua itu. Ia sudah meninggal dunia.
Peristiwa tragis ini terjadi pada tanggal 24 Februari 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, di Jalan KH. Wahid Hasyim Jombang. Sebuah lokasi yang seolah menjadi saksi bisu betapa kehidupan yang keras memaksa seorang kakek renta untuk terus bertahan, meski harus berhadapan dengan keletihan yang tak lagi mampu ditahan.
Kapolsek Jombang, AKP Edy Widoyono, mengungkapkan bahwa polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap tempat kejadian perkara (TKP) dan memastikan bahwa tidak ada unsur kekerasan dalam kejadian tersebut.

“Kami telah memeriksa saksi-saksi, dan berdasarkan temuan di lokasi kejadian, korban diperkirakan meninggal dunia karena kelelahan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik,” jelas AKP Edy Widoyono.
Malam itu, Sutauji pergi dengan cara yang sunyi, tanpa seorang pun tahu betapa beratnya perjuangannya selama ini. Di tengah hiruk-pikuk arus pembangunan yang terus berkembang di Jombang, kisah hidupnya yang penuh perjuangan ini tetap tersembunyi di balik kehidupan kota yang sibuk. [suf]







1 Komentar
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sahid njenengan pak Ji…..