Malang (beritajatim.com) – Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menekankan bahwa ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa merupakan sebuah “sekolah” spiritual untuk melatih pengendalian diri, kedisiplinan, kejujuran, hingga empati mendalam terhadap sesama.
Pesan mendalam ini disampaikan Prof. Widodo dalam Kuliah Tujuh Menit (Kultum) bertajuk Hikmah Puasa yang berlangsung di Masjid Fatahilah, Kamis (19/2/2026). Di hadapan para jamaah, ia menggarisbawahi bahwa esensi tertinggi dari puasa adalah kemampuan manusia untuk menekan ego.
“Yang paling penting justru adalah menahan ego kita, menahan hati kita, dan terus membuka hati untuk peduli kepada sesama,” ujar Prof. Widodo.
Menurut Prof. Widodo, durasi puasa yang dijalani selama belasan jam setiap harinya memiliki muara akhir, yakni menjadi insan yang bertakwa. Namun, ia memberikan definisi takwa yang lebih progresif dan menyentuh aspek kesadaran moral.
Takwa, baginya, bukan hanya rasa takut kepada sang pencipta, melainkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap sendi kehidupan. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan ketaatan dan tanggung jawab moral yang kuat.
Merujuk pada Surat Al-Baqarah, Prof. Widodo menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam penyampaiannya, Rektor UB ini juga menyoroti fenomena sosial terkait sedekah. Ia mencatat bahwa selama ini sedekah seringkali hanya difokuskan pada pembangunan fisik, seperti mempermegah bangunan masjid.
Padahal, implementasi takwa yang sebenarnya harus memiliki implikasi sosial yang nyata.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa tidak beriman seseorang jika ia merasa kenyang sementara tetangganya menderita kelaparan.
“Iman tidak boleh berhenti di sajadah atau di dalam masjid saja. Iman harus bermuara pada takwa yang memiliki dampak sosial nyata bagi lingkungan sekitar,” tegasnya.
Lebih jauh, Prof. Widodo menambahkan bahwa orang yang bertakwa juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga harmoni dengan alam dan hewan, dengan cara tidak merusak ekosistem demi keberkahan bersama.
Tak hanya dari sisi spiritual dan sosial, Prof. Widodo juga membedah manfaat puasa dari perspektif kesehatan. Sebagai seorang akademisi di bidang sains, ia membagikan testimoni nyata mengenai kekuatan puasa dalam menyembuhkan penyakit kronis seperti Diabetes.
Ia menceritakan kisah salah satu rekannya yang juga menjabat sebagai rektor. Rekannya tersebut sebelumnya sangat bergantung pada suntikan insulin setiap kali selesai makan untuk menormalkan kadar gula darahnya.
“Namun sekarang beliau sembuh total tanpa insulin dan tanpa mengonsumsi obat sama sekali. Caranya? Dengan konsisten menjalankan ibadah puasa,” cerita Prof. Widodo.
Menutup kultumnya, Prof. Widodo mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana membangun kapasitas diri, memperkuat iman, dan mengukuhkan ketakwaan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. (dan/but)






