Situbondo (beritajatim.com) – Setahun sudah Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo memimpin Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, bersama Wakil Bupati Ulfiyah sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto, 20 Februari 2025.
Pria kelahiran 30 Maret 1984 ini tidak memiliki latar belakang dan pengalaman birokrasi. Rekam jejaknya lebih diketahui publik sebagai pendiri dan orang nomor satu di Politika Research & Consulting (PRC), sebuah lembaga konsultasi politik dan survei nasional
Namun Rio berhasil mengalahkan petahana Bupati Karna Suswandi dengan selisih hanya 13.697 suara (202.479 suara melawan 188.782 suara), dalam Pemilihan Kepala Daerah Situbondo. “Saya menggantikan seorang pemimpin yang sangat kuat dari segi politik, terutama di birokrasi,” katanya kepada Beritajatim.com, Kamis (19/2/2026).
Tak heran jika kemudian Rio menyebut setahun pemerintahannya sangat menantang. “Challenging banget,” kata alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember ini.
Di sela-sela perjalanan dinasnya ke Surabaya, Rio bersedia melayani wawancara Beritajatim.com melalui hubungan telepon seputar tahun pertama pemerintahannya. Ini bagian pertama dari wawancara tersebut.
Beritajatim.com:
Bagaimana Anda menjalani tahun pertama pemerintahan di Kabupaten Situbondo?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Challenging banget. Setiap sesuatu yang baru kan pasti butuh adjustment period. Periode pengaturan. Saya tidak punya background birokrat, tentu dunia pemerintahan kabupaten sesuatu yang baru. Mungkin secara politik saya menguasai. Tapi dalam teknis-teknis pemerintahan, ini baru bagi kami berdua.
Ada beberapa tantangan yang saya pikirkan sejak awal. Pertama, tantangan politik. Tantangan ini bisa dilalui dengan bersatunya kubu PPP dan PKB. Para masyayikh, kiai-kiai juga mendukung. Partai nasionalis juga sangat mendukung. Jadi nyaris enggak ada dinamika yang berarti.
Buktinya rapat perubahan anggaran pada 2025 berjalan lancar. Program visi misi prioritas juga diterima teman-teman.
[Catatan: Rio-Ulfiyah didukung Koalisi Kebersamaan yang terdiri atas PKB, PPP, Hanura, Nasdem, PSI, Partai Golkar, dan PDI Perjuangan saat pilkada. Di DPRD Situbondo, koalisi ini menguasai 35 kursi dari 45 kursi parlemen]
Tantangan berikutnya adalah tantangan sosial masyarakat. Mungkin karena lahir dan besar di Situbondo, saya tahu betul DNA orang Situbondo. Jadi saya tidak harus melakukan upaya pencitraan politik.
Cukup menjadi diri saya sendiri. Akhirnya masyarakat very much welcome dan sangat support terhadap apa yang kami kerjakan. Kuncinya kejujuran, akuntabilitas, integritas. Apa adanya saja.
Beritajatim.com:
‘Apa adanya’ bagaimana?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Saya tidak berusaha memoles diri saya. Tidak berusaha melakukan upaya perubahan personalitas dalam diri saya. Semuanya berjalan. Kayak barusan ini saya live TikTok dengan masyarakat, dan mereka happy, everyone happy. Semua senang karena merasa terlayani. Yang penting kan terlayani.
Kemudian tantangan birokrasi. Nah, ini yang challenging banget. Birokrasi itu kan selalu berwajah ganda: teknokrasi dan berwajah politik.
Ini enggak hanya di Situbondo. Birokrasi beberapa daerah di Indonesia juga relatif lebih kental ke politik daripada teknokrasi. Akhirnya birokrat-birokrat ini asyik terjebak dalam kubangan politik yang seharusnya mereka hindari.
Saya menggantikan seorang pemimpin yang sangat kuat dari segi politik, terutama di birokrasi. Bagaimana mesin-mesin birokrasi dijadikan sebagai alat penunjang suara. Ketika saya masuk, mau tidak mau mereka akhirnya harus shifting dari pemimpin yang sebelumnya ke model seperti saya.
Saya sudah melakukan upaya observasi lapangan. Akhirnya saya putuskan, saya tidak mau melakukan upaya yang ekstrem, radikal dengan mengganti, mengganti, mengganti, mengganti birokrasi. Bahkan mutasi dan rotasi kepala dinas baru saya lakukan pada Januari kemarin. Itu artinya setelah hampir satu tahun saya memimpin.
Beritajatim.com:
Mengapa demikian?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Untuk melakukan upaya rekonsolidasi, melakukan upaya revitalisasi, melakukan upaya reorientasi, bahwa pejabat dan lain-lainnya harus profesional. Alhamdulillah. itu bisa kita lampaui dan impact-nya terasa. Mereka fokus berpikir tentang teknokrasi. Proses pemajuan-pemajuan.
Apa indikatornya? Anda bisa lihat banyak sekali indikator makro ekonomi yang menunjukkan hasil luar biasa. Ini saya anggap hasil dari mengatasi tantangan politik, tantangan sosial, dan tantangan birokrasi.
[Catatan: pertumbuhan ekonomi Situbondo pada triwulan ketiga 2025 adalah 6,16 persen. Pertumbuhan ini mengungguli Jember (5,83 persen), Banyuwangi (5,72 persen), dan Lumajang (5.05 persen).]
So, saya mau simpulkan bagaimana secara umum satu tahun ini: menantang, asyik. Meskipun di tengah pengurangan anggaran. Tapi kita bisa lampaui. [wir]






