Jakarta (beritajatim.com) – Jumlah penyintas kanker di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia lanjut.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), tanpa perubahan strategi yang signifikan, beban kasus dan angka kematian akibat kanker di Indonesia pada periode 2025–2040 diproyeksikan meningkat hingga 63 persen.
Kondisi tersebut diperparah oleh masih rendahnya tingkat deteksi dini kanker. Banyak pasien baru mendapatkan diagnosis saat kanker telah memasuki stadium lanjut.
Padahal, sekitar 50 persen kasus kanker sejatinya dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi di Primaya Hospital Semarang, dr. Daniel Rizky, mengatakan peningkatan angka harapan hidup penyintas kanker tidak lepas dari kemajuan teknologi medis.
“Meningkatnya angka harapan hidup penyintas kanker didukung oleh kemajuan teknologi diagnostik, terapi yang semakin presisi, serta akses skrining kanker yang kini semakin luas,” ujar dr. Daniel, Selasa (18/2/2026).
Sebagai bentuk komitmen terhadap deteksi dini, Primaya Hospital menyediakan berbagai paket skrining kanker, baik umum maupun khusus wanita, yang tersedia sepanjang tahun 2026.
Tantangan Penanganan Kanker pada Lansia
Meski angka harapan hidup meningkat, penanganan kanker pada pasien lansia memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kondisi frailty index atau tingkat kerapuhan biologis pasien, yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologis.
“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu, terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan,” jelas dr. Daniel.
Ia menegaskan bahwa usia lanjut bukan alasan untuk membatasi terapi, melainkan perlu pendekatan yang lebih cermat. Penanganan tetap disesuaikan dengan jenis dan stadium kanker, disertai evaluasi fungsi organ, penyakit penyerta, serta tingkat kebugaran pasien. Dalam sejumlah kasus, kolaborasi dengan dokter spesialis geriatri juga diperlukan agar terapi tetap aman dan efektif.
Dr. Daniel juga meluruskan anggapan bahwa pengobatan kanker pada lansia selalu berisiko tinggi. Menurutnya, saat ini telah tersedia berbagai regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut.
“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa memperburuk kondisi pasien,” tegasnya.
Peran Penting Keluarga dan Pemantauan Lanjutan
Selain aspek medis, dukungan keluarga memiliki peran krusial dalam proses penyembuhan. Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah pembatasan asupan makanan secara ekstrem akibat mitos seputar kanker.
“Pasien yang menjalani terapi justru membutuhkan nutrisi yang cukup untuk membantu proses pemulihan. Kanker bukan hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional,” ujar dr. Daniel.
Ia menambahkan, support system yang kuat dapat membantu pasien tetap bersemangat dan tidak merasa sendirian selama menjalani pengobatan. Setelah terapi selesai, lansia penyintas kanker tetap perlu menjalani kontrol dan pemantauan rutin guna mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta memantau efek samping jangka panjang.
“Penanganan yang tepat bagi penyintas kanker lansia adalah kombinasi terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya. (ted)






