Hidup tak pernah mudah bagi Adi Sutarwijono. Tetapi dia memilih menjalaninya dengan kepala tegak dan hati lapang. Kami mungkin tak pernah benar-benar tahu seberapa berat beban yang dipikulnya sebagai pimpinan, sebagai Ketua DPRD Surabaya dan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2019-2024, amanah yang teramat berat di sebuah kota metropolitan berpenduduk 3 juta jiwa dengan segala kompleksitasnya. Tetapi kami tahu satu hal, bahwa dia memilih memikulnya dalam diam.
Saya mengenal sosok Mas Adi bukan hanya sebagai Ketua DPRD Surabaya, bukan hanya sebagai ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2019-2024. Lebih dari itu, saya mengenalnya sebagai pimpinan sekaligus sahabat. Sosok yang mengajarkan bahwa politik bukan tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian. Bahwa kepemimpinan bukan tentang perintah, melainkan tentang keteladanan.
Saya sering menyaksikan bagaimana Mas Adi bekerja melampaui batas kewajaran. Waktunya hampir tak pernah menjadi miliknya sendiri. Pintu rumah dinas maupun ruangan ketua DPRD selalu terbuka. WhatsApp siaga hampir 24 jam, pasti dibalas ketika beliau tidak memimpin rapat atau ada agenda yang mengharuskan tak memegang ponsel. Pagi hingga malam diisi dengan agenda yang padat, kunjungan warga, menyelesaikan persoalan partai, mendengar keluh kesah masyarakat kecil. Namun tak sekali pun saya melihatnya mengeluh.
Tadi malam ketika kabar Mas Adi wafat beredar, ponsel saya tak berhenti berdering. Banyak yang menyampaikan duka mengingat kebaikan dia.
Seorang warga di Kecamatan Rungkut telepon saya, sesenggukan menangis. ”Kalau tidak dibantu Pak Adi, anak saya sudah putus sekolah,” ujarnya.
Seorang Ketua RW di Kecamatan Sukolilo mengirimkan foto kenangan bersama Mas Adi di rumah dinas. Di foto itu, Mas Adi mengenakan kaus hitam, tersenyum lebar bersama sang ketua RW. ”Orang baik itu telah pergi, Mas,” ujar Mas Abidin, Sang Ketua RW tersebut.
Jika hidup seperti pertarungan di medan tempur, saya yakin ada banyak luka di punggung Mas Adi. Luka di punggung adalah luka yang tak terlihat. Luka akibat terus berjalan ke depan, menahan beban, melindungi orang-orang yang berada di belakangnya. Dan begitulah Mas Adi yang saya kenal: memilih berdiri paling depan saat menghadapi masalah, tetapi berjalan paling belakang saat menerima pujian.
Dari dia, saya belajar tentang kesabaran dalam menghadapi dinamika. Politik pasti penuh dinamika, penuh silang pendapat. Saya masih ingat pesannya, ”Dalam politik, jangan pernah memusuhi orangnya. Lawan gagasannya, bukan pribadinya.”
Nasihat sederhana, tetapi sulit dijalankan bila seseorang tak memiliki keluasan hati.
Sebagai ”anak buah” dan yuniornya, saya pernah merasa gagal, merasa belum mampu memenuhi ekspektasi dan harapan dia, terutama terkait kerja-kerja politik di tingkat akar rumput. Namun, Mas Awi tak pernah mempermalukan dan menghardik. Dia memanggil, mengajak duduk, dan berbicara pelan. Sosok yang lebih gemar membangun kepercayaan, bukan ketakutan. Dan dari kepercayaan itulah tumbuh keberanian untuk terus berusaha.
Mas Adi juga seorang penulis yang andal. Bahkan sampai akhir hayatnya, masih sering menulis sendiri, meski dengan posisinya memungkinkan memerintah staf untuk melakukannya. ”Menulis ini bagian dari mengasah pikiran, biar tetap tajam,” kata dia.
Saya masih menyimpan foto ketika Mas Adi mengetik di laptop, meski dalam dua tahun terakhir lebih sering menulis lewat fitur Note di ponsel.
Kepergian Mas Adi meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi. Bagi banyak orang, Mas Adi mungkin adalah tokoh publik, pemimpin lembaga, figur politik. Namun bagi banyak orang di keluarga besar PDI Perjuangan Surabaya, Mas Adi adalah sosok senior yang lembut hati dan mengayomi.
Selamat jalan, Mas Adi. Upahmu besar di surga.
Eri Irawan,
Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Mantan Jurnalis.






