Jombang (beritajatim.com) – Di tengah gemuruh waktu, di sebuah desa kecil di Kabupaten Jombang, warga Kecamatan Ploso terus menjaga memori sejarah kelahiran Sukarno, Presiden pertama Republik Indonesia.
Upaya ini bukan hanya tentang mengenang, tetapi juga melestarikan jejak-jejak yang membentuk sosok besar dalam sejarah bangsa ini.
Pada Selasa, 10 Februari 2026, di Situs Rumah Kelahiran Soekarno yang terletak di Gang Buntu, Desa Rejoagung, kegiatan ziarah dimulai dengan doa bersama. Rumah itu bukan sekadar bangunan, tetapi simbol hidup yang mengingatkan akan perjalanan panjang bangsa ini.
Di sana, sejarah kembali hidup saat warga Ploso, bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTA), menggelar ziarah untuk mengenang mereka yang telah menjaga dan menyampaikan cerita kelahiran Bung Karno dari generasi ke generasi.
“Tanpa mereka, generasi saat ini tidak akan memiliki jejak sejarah yang utuh,” ujar Komar, Ketua DPC PCTA, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke makam-makam tokoh penting yang turut berperan dalam meriwayatkan kisah Bung Karno semasa kecil di Ploso.
Di antara makam yang diziarahi adalah makam Kiai Abdul Mukti, sahabat Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah Bung Karno, dan pengasuh langgar di Pesantren Kedungturi, tempat Bung Karno pertama kali mengenal huruf Alquran.
Ada pula makam Nyai Nasihah, sosok yang menjadi kunci bagi lokasi sekolah desa, Ongko Loro, tempat Bung Karno menuntut ilmu formal pertama kali di Ploso. Tak kalah pentingnya, makam Mbok Suwi yang mengasuh Bung Karno sejak usia enam hari, serta makam Mbah Joyo, teman masa kecil Bung Karno yang menjadi bagian dari hari-hari penuh kenangan.
Sebagai pengingat, Komar menceritakan bahwa kedua tokoh terakhir ini juga mendampingi Cindy Adams pada 16 Januari 1964 ketika ia datang ke Ploso untuk menggali lebih dalam tentang biografi Bung Karno. Sebuah ikatan sejarah yang kian mempererat hubungan masa lalu dengan masa kini.
Tak hanya ziarah, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk terus melestarikan sejarah yang ada. Binhad Nurrohmat, inisiator Titik Nol Soekarno, menegaskan bahwa acara ini adalah bukti hidupnya memori kolektif masyarakat Ploso tentang kelahiran Bung Karno.
“Kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa ingatan kolektif tentang Bung Karno lahir di Ploso masih hidup dan dirawat hingga hari ini,” ujarnya.
Acara ini tidak sekadar menjadi penghormatan, tetapi juga usaha bersama warga Ploso, komunitas peminat sejarah, dan berbagai organisasi, termasuk PCTA. Sebuah ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa sejarah Bung Karno tidak hanya dipelajari, tetapi juga hidup dalam setiap langkah warga Ploso.
Sebagai penutup, Binhad menambahkan, kegiatan ini akan terus berlanjut sebagai agenda rutin untuk memperingati tanggal-tanggal penting, seperti 28 Desember, yang menandai kedatangan Raden Sukeni ke Ploso, dan 16 Januari, yang menjadi momentum kedatangan Cindy Adams.
Dalam setiap doa dan ziarah, masyarakat Ploso mewariskan nilai-nilai sejarah, merawat memori, dan memastikan bahwa Bung Karno, yang lahir dari tanah mereka, terus hidup dalam hati setiap warga negara Indonesia.
“Melalui ziarah ini, kami tidak hanya mengenang, tetapi juga berkomitmen menjaga jejak sejarah yang tidak boleh terlupakan,” ujar Binhad. [suf]






