Jember (beritajatim.com) – Ancaman banjir bandang di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, masih membayangi. Sejumlah rumah di bantaran sungai perlu direlokasi.
Banjir bandang pernah terjadi di Panti pada awal tahun baru 2006. Saat itu hujan deras herhari-hari dan menyebabkan air sungai meluap membawa material potongan kayu dan lumpur datri lereng Gunung Argopuro. Korban jiwa mencapai ratusan orang dan ribuan warga mengungsi karena rumah mereka rusak.
Banjir bandang terjadi lagi di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Senin (2/2/2026) malam. Tidak sebesar banjir bandang 20 tahun silam. Namun puluhan rumah terendam air berlumpur dan seorang aparatur sipil negara tewas terseret arus.
Pejabat Sekretaris Daerah Jember Akhmad Helmi Luqman mengatakan, ada keinginan warga untuk mengembalikan jalur sungai sebelum banjir bandang pada 2006. Jalur baru sungai yang muncul setelah banjir bandang dua dekade lalu menyebabkan puluhan rumah terancam, karena jarak dengan sungai menjadi lebih dekat.
Namun upaya untuk mengembalikan jalur sungai ini memuncukkan dilema. Menurut Helmi, ketika itu dilakukan, giliran warga Desa Badean yang terdampak lokasi aliran sungai mendekati tepi jalan dan deretan rumah warga. Hal ini memerlukan kajian lebih dalam.
Sementara itu, penghuni empat rumah tepi sungai yang terdampak banjir bandang awal Februari 2026 sudah dievakuasi. “Masih kami kaji untuk merelokasi (empat rumah). Cuma kami juga berkoordinasi dengan desa, apakah ada tanah kas desa yang bisa ditempatu, dan apakah yang bersangkutan mau direlokasi,” kata Helmi, Jumat (6/2/2026).
Pemkab Jember sudah memasang bronjong sepanjang 400 meter untuk menahan dinding tanah di sekitar sungai. “Kalau tidak dikasih bronjong mungkin akan lebih banyak korban kemarin,” kata Helmi.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi curah hujan tinggi di Jember akan terjadi hingga 10 Februari 2026. “Kami berharap warga mengantisipasi kemungkinan terburuk dan tidak menempati dulu rumah di tepi sungai saat hujan turun deras,” kata Helmi. [wir]






