Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur (ISKI Jatim), Suko Widodo, mengingatkan adanya risiko dehumanisasi dalam praktik komunikasi instansi yang hanya mengandalkan algoritma dan kecepatan mesin. Menurutnya, penggunaan teknologi tanpa pertimbangan etis manusiawi dapat merusak esensi hubungan antara lembaga dengan masyarakat luas.
Suko menilai teknologi mulai menjadi masalah serius saat diposisikan sebagai penentu utama dalam setiap pengambilan keputusan komunikasi publik. Ia menyayangkan proses komunikasi yang sering melepaskan pertimbangan empatik dan kontekstual hanya demi mengejar efisiensi algoritmik serta optimasi klik semata.
“Ruh komunikasi mulai tereduksi jika pesan humas hanya didasarkan pada kecepatan dan keterulangan,” ujar Suko pada Jumat (6/2/2026). Ia menegaskan bahwa kompetensi manusia yang paling berharga dan mahal saat ini adalah penilaian etis serta kemampuan berempati.
Praktisi humas diingatkan agar tidak terlena oleh kecanggihan teknologi karena gaya komunikasi yang mekanis berisiko memicu erosi kepercayaan publik secara masif. Hilangnya keterlibatan emosional masyarakat merupakan bentuk kegagalan reputasi paling serius yang harus dihindari oleh setiap organisasi atau institusi.
Menghadapi gempuran algoritma yang sangat dinamis, ISKI Jawa Timur menyarankan strategi narasi yang berbasis pada pengalaman autentik manusia. Konten yang menjunjung tinggi etika diklaim tetap mampu bersaing di ruang digital jika mengusung nilai kejujuran dan dialog yang tulus.
ISKI Jatim juga mendorong perubahan indikator keberhasilan humas agar tidak lagi sekadar terpaku pada angka keterlibatan atau engagement semata. Fokus penilaian harus beralih pada kualitas relasi, tingkat kepercayaan publik, serta dampak sosial komunikasi dalam jangka panjang.
Kepada para praktisi komunikasi dari kalangan Gen Z, Suko berpesan agar tidak mengorbankan kedalaman makna sebuah pesan demi mengejar viralitas sesaat. Ia mengingatkan bahwa reputasi institusi bersifat akumulatif, sementara tren viral di media sosial sering kali bersifat temporer dan cepat terlupakan.
“Viral bersifat temporer, sementara reputasi bersifat akumulatif dan jangka panjang. Kreativitas penting, tetapi tanggung jawab etis jauh lebih menentukan keberlanjutan profesi humas itu sendiri,” tutur Suko menekankan pentingnya integritas profesi.
Bagi akademisi Unair ini, restorasi nalar kritis dan kepekaan sosial menjadi kunci utama agar profesi komunikator tetap relevan di tengah disrupsi teknologi. Komunikator masa depan harus mampu memposisikan diri sebagai penjaga makna sekaligus pengelola kepercayaan publik yang handal.
Langkah ini dinilai mendesak untuk memastikan komunikasi publik tidak hanya menjadi lalu lintas data yang hampa, tetapi menjadi jembatan kemanusiaan. Penekanan pada aspek manusiawi diharapkan mampu mengembalikan marwah profesi humas sebagai pilar utama dalam membangun peradaban digital yang sehat. [ipl/beq]






