Yogyakarta (beritajatim.com)- Sudah dua bulan berlalu sejak banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh. Namun hingga kini, ribuan warga belum bisa kembali ke rumah. Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, tercatat sebanyak 91.663 jiwa dari 24.280 kepala keluarga (KK) masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pasca bencana belum berjalan optimal. Banyak pengungsi terpaksa hidup dalam keterbatasan, dengan fasilitas seadanya dan ketidakpastian kapan mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal.
Tiga Dampak Psikologis Pasca Bencana
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang berat bagi para korban.
Menurutnya, terdapat tiga persoalan utama yang umumnya dialami pengungsi. Pertama, trauma akibat mengalami langsung peristiwa bencana. Kedua, kehilangan orang terdekat, tempat tinggal, hingga sumber penghidupan. Ketiga, tuntutan beradaptasi dengan kehidupan baru di lingkungan pengungsian yang serba terbatas.
“Pemulihan psikologis bisa dilihat dari sejauh mana fungsi kehidupan mereka kembali berjalan normal,” ujar Rahmat.
Lingkungan Pengungsian Sangat Menentukan
Rahmat menekankan bahwa suasana di lokasi pengungsian sangat memengaruhi kondisi mental pengungsi. Dukungan sosial antar sesama pengungsi, aktivitas harian, serta rasa aman menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas psikologis mereka.
Lingkungan yang kondusif, lanjutnya, adalah lingkungan yang mampu memberikan rasa nyaman, aman secara fisik, serta memungkinkan pengungsi tetap menjalankan fungsi sosial meski dalam keterbatasan.
Rasa Aman Jadi Kunci Pemulihan
Ancaman bencana susulan kerap membuat pengungsi hidup dalam kecemasan berkepanjangan. Karena itu, rasa aman menjadi elemen utama dalam proses pemulihan mental.
Kehadiran relawan dan pendamping dinilai mampu memberikan ketenangan, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi sulit.
“Yang paling penting adalah memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan,” kata Rahmat.
UGM dan LSM Turut Beri Pendampingan
Dalam upaya membantu pemulihan psikologis, UGM bersama sejumlah perguruan tinggi dan LSM setempat memberikan dukungan berupa pelatihan psychological first aid, pemantauan kondisi mental, serta pendampingan jarak jauh secara berkelanjutan.
Pendekatan ini diharapkan mampu membantu pengungsi mengelola trauma dan stres, sekaligus membangun kembali ketahanan mental mereka.
Butuh Komitmen Jangka Panjang Pemerintah
Rahmat menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa bersifat sementara. Pemerintah perlu hadir secara konsisten, tidak hanya melalui bantuan logistik, tetapi juga pendampingan psikososial yang berkelanjutan.
“Bantuan bukan hanya soal makanan dan tempat tinggal, tetapi juga soal kehadiran, empati, dan jaminan rasa aman di masa depan,” pungkasnya. [aje]






