Banyuwangi (beritajatim.com) – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Wangi resmi menerbitkan Notice to Marine terkait pelaksanaan pekerjaan scraping bawah air di lokasi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Peringatan navigasi ini dikeluarkan untuk memastikan seluruh rangkaian proses evakuasi bangkai kapal di perairan Selat Bali tersebut berjalan dengan aman dan lancar.
Kebijakan keselamatan tersebut secara resmi ditetapkan melalui Notice to Marine Nomor PG-KSOP.TG.WI. 2 tahun 2026. Melalui pemberitahuan ini, KSOP Tanjung Wangi menginformasikan kepada seluruh nakhoda dan perusahaan pelayaran bahwa pekerjaan bawah air sedang berlangsung.
Kegiatan teknis tersebut dipusatkan pada titik koordinat 08°09’33,11” Lintang Selatan dan 114°29’52,03” Bujur Timur. Kepala KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Capt. Purgana menyatakan bahwa otoritas telah menetapkan area terbatas yang dilarang untuk dilalui kapal umum.
Penetapan area pembatasan ini didasarkan pada sejumlah koordinat presisi guna menjamin standar keselamatan pelayaran yang ketat. Langkah tersebut juga diambil agar tidak terjadi gangguan pada kelancaran pekerjaan tim evakuasi di lapangan.
“Kami menginstruksikan seluruh kapal yang berlayar di sekitar lokasi untuk mengurangi kecepatan, meningkatkan kewaspadaan navigasi, menjaga komunikasi radio pada kanal pengamanan, serta mematuhi arahan petugas patroli dan unsur pengamanan setempat,” ujar Capt. Purgana.
Selama proses kegiatan berlangsung, area kerja tersebut akan terus dijaga oleh kapal patroli otoritas pelabuhan. Petugas juga telah melengkapi lokasi dengan tanda pengamanan sementara berupa bouy atau marker navigasi.
Pemberitahuan resmi ini dinyatakan berlaku efektif sejak tanggal ditetapkan oleh otoritas terkait. Status pemberlakuan area terbatas akan terus berlanjut hingga kegiatan pengangkatan dinyatakan selesai sepenuhnya atau terbit pemberitahuan resmi selanjutnya.
“Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menjamin keselamatan pelayaran dan keamanan aktivitas maritim di perairan Selat Bali,” tegas Capt. Purgana memberikan penjelasan tambahan.
Terkait durasi pengerjaan, Capt. Purgana mengakui bahwa proses pengangkatan bangkai kapal kemungkinan besar akan berlangsung selama sekitar satu bulan. Estimasi waktu tersebut muncul karena tahapan evakuasi harus dilakukan secara sangat hati-hati dan bertahap.
Otoritas juga mempertimbangkan dinamika kondisi arus dan karakteristik perairan di lokasi tenggelamnya kapal. Tahap awal pekerjaan akan difokuskan pada pengambilan beberapa bagian kapal seperti railing serta komponen lain yang tercecer di dasar laut.
Tim evakuasi juga memprioritaskan pengangkatan kendaraan muatan kapal yang ikut tenggelam bersama badan utama KMP Tunu Pratama Jaya. Fokus ini diambil untuk memitigasi risiko pergeseran material di bawah permukaan laut.
“Hal tersebut dilakukan karena dikhawatirkan bagian-bagian tersebut akan terseret mendekati kabel laut jika tidak segera diangkat,” pungkasnya. [alr/beq]






