Surabaya (beritajatim.com) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menerapkan kebijakan lebih selektif dalam mengirim atlet ke ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri II 2026.
Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi keterbatasan anggaran sekaligus memastikan target prestasi tetap maksimal dengan fokus pada perolehan medali emas.
Direktur Badan Pelaksana (Bapel) Puslatda KONI Jawa Timur, Dr. Irmantara Subagio, menegaskan bahwa hanya atlet dengan peluang realistis meraih emas yang akan diproyeksikan tampil di ajang nasional tersebut.
“Dalam PON Bela Diri II 2026, kami memastikan hanya atlet-atlet terbaik yang benar-benar memiliki peluang meraih medali emas yang dikirim. Ini bagian dari strategi agar pembinaan berjalan efektif dan tepat sasaran,” ujar Irmantara.
Ia menjelaskan, kebijakan pembatasan jumlah atlet tidak semata-mata disebabkan oleh minimnya prestasi di sejumlah cabang olahraga (cabor) bela diri, tetapi juga menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia. Karena itu, seleksi dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan rekam jejak prestasi atlet.
“Dengan kondisi yang ada, kami harus memastikan pembinaan benar-benar fokus pada atlet yang memiliki potensi prestasi tertinggi. Karena itu, seleksi dilakukan secara ketat,” katanya.
Menurut pria yang akrab disapa Ibag tersebut, atlet yang diproyeksikan tampil di PON Bela Diri II 2026 merupakan mereka yang telah memiliki rekam jejak prestasi kuat. Prioritas diberikan kepada peraih medali emas atau perak yang dinilai berpeluang meningkatkan prestasi menjadi emas, baik di PON 2024, kejuaraan nasional tunggal, maupun ajang internasional seperti SEA Games 2025.
Selain itu, KONI Jatim juga membuka kemungkinan adanya seleksi ulang bagi atlet tertentu guna memastikan kesiapan fisik, mental, dan konsistensi performa menjelang kejuaraan.
“Untuk cabang olahraga yang saat ini belum memiliki atlet, seperti tinju, kami akan memantau atlet-atlet eks Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Pada hari Sabtu, 31 Januari nanti, juga akan digelar seleksi di Ngawi dan akan kami pantau langsung,” jelasnya.
Ibag menambahkan, apabila suatu cabor belum memiliki atlet yang memenuhi kriteria, KONI Jatim masih membuka peluang merekrut atlet dari cabor lain yang dinilai memiliki potensi, namun belum mendapatkan tempat di cabang asalnya.
“Ini menjadi solusi realistis agar peluang prestasi tetap terjaga, meski sumber daya atlet di beberapa cabang olahraga bela diri masih terbatas,” pungkasnya. (way/ted)






