Lumajang (beritajatim.com) – Dampak kerusakan akibat gelombang tinggi di laut selatan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dilaporkan meluas. Sebelumnya, ombak besar menyebabkan delapan bangunan warung milik warga di Pantai Dampar, Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, rusak pada 22 Januari 2026.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, jumlah warung rusak akibat gelombang tinggi di Pantai Dampar bertambah sebanyak tujuh warung. Total jumlah warung yang terdampak ombak tinggi di Pantai Dampar menjadi 15 unit bangunan.
Selain merusak bangunan, gelombang tinggi juga dilaporkan merusak empat unit perahu nelayan di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan ancaman gelombang tinggi di pesisir selatan Lumajang diprediksi akan berlangsung hingga 30 Januari 2026.
Fenomena gelombang tinggi ini diketahui disebabkan oleh munculnya siklon tropis di kawasan Samudra Hindia dan dipengaruhi fase bulan purnama yang meningkatkan potensi kenaikan air laut.
“Ini perkiraan BMKG, gelombang tinggi bisa sampai tanggal 30 Januari 2026. Kisaran tinggi gelombang rata-rata di 1 meter. Tapi menjelang bulan purnama, biasanya ombak akan jauh lebih besar,” terang Isnugroho, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, gelombang tinggi paling sering dilaporkan terjadi pada malam hari, saat air laut mencapai titik pasang.
Isnugroho mengingatkan agar nelayan menghentikan aktivitas melaut sementara waktu sebagai antisipasi dampak gelombang tinggi. “Jadi, biasanya nelayan lebih paham kondisi laut. Saat ini kami mengimbau untuk tidak melaut dulu saat gelombang masih tinggi,” ungkapnya. (has/kun)






