Ponorogo (beritajatim.com) — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak sekadar menjadi agenda distribusi makanan di sekolah. Di SMK Kesehatan Bina Karya Medika (BKM) Ponorogo, program ini menjelma sebagai ruang pembelajaran nyata tentang gizi, kesehatan, dan pola hidup sehat bagi generasi muda.
Sebanyak 433 porsi makan bergizi gratis disalurkan kepada siswa kelas X, XI, dan XII, sekaligus untuk guru serta tenaga kependidikan. Penyaluran dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Ponorogo yang beroperasi di wilayah Kelurahan Purbosuman.
Bagi sekolah berbasis kesehatan, kehadiran MBG bukan hanya memenuhi kebutuhan asupan harian siswa, tetapi juga memperkuat praktik pembelajaran kontekstual, yakni menghubungkan teori gizi dengan pengalaman langsung di ruang makan.
“Akhirnya siswa SMK Bina Karya Medika Ponorogo bisa ikut merasakan program pemerintah yang sedang banyak dibicarakan. Saya harap program ini bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Semoga semangat Makan Bergizi Gratis (MBG) ini juga akan diikuti semangat siswa dalam bersekolah dan menuntut ilmu ke depannya,” kata Kepala Sekolah SMK BKM, Aufa Rahmawati Kurdi Putri, Senin (26/01/2026).
Dari sudut pandang siswa, program ini diterima dengan antusias. Selain rasa, komposisi menu menjadi perhatian tersendiri bagi mereka yang belajar di bidang kesehatan. “Makanan yang diberikan dari program MBG cukup enak dan bergizi. Terdapat protein, sayuran, dan buah-buahan,” kata Diva, salah satu murid.
Di balik pelaksanaan MBG, Polres Ponorogo menyiapkan infrastruktur layanan melalui tiga dapur SPPG yang tersebar di Kecamatan Sampung, Ponorogo Kota, dan Siman. Penempatan wilayah dilakukan untuk mengisi area yang sebelumnya belum terlayani, sekaligus memperluas jangkauan penerima manfaat.
Tak hanya soal distribusi, aspek keamanan pangan menjadi prioritas. Polres Ponorogo secara rutin melakukan pengecekan makanan guna memastikan menu yang dibagikan aman dan layak konsumsi. Selain itu, kerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo dilakukan untuk memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap dapur sebelum resmi beroperasi.
Dari pihak sekolah, pelaksanaan hari pertama MBG dinilai berjalan lancar dan membawa dampak emosional tersendiri. Khusnul selaku wakil kepala sekolah dan panitia MBG sekolah mengatakan program ini bukan hanya soal makan, tetapi investasi jangka panjang untuk kesehatan dan kecerdasan mereka.
“Alhamdulillah, MBG di hari pertama SMK Kesehatan Bina Karya Medika Ponorogo berjalan dengan lancar. Melihat senyum anak-anak hari ini, kami merasa terharu dan bangga,” katanya.
Lebih dari sekadar program sosial, MBG diharapkan menjadi pemicu kolaborasi lintas sektor di Ponorogo, yakni menghubungkan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik dalam satu ekosistem pembangunan sumber daya manusia.
Ke depan, publik menaruh harapan agar program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan terus berkembang dengan jangkauan lebih luas dan frekuensi yang berkelanjutan, terlebih lagi menyentuh sekolah-sekolah hingga pelosok daerah. (end/kun)






