Jakarta (beritajatim.com) – Dua guru asal Surabaya mencuri perhatian publik internasional saat tampil di panggung megah M7 World Championship di Jakarta untuk memaparkan narasi baru dunia pendidikan. Riries Wahyu Nugrahaini dari SDN Siwalankerto 2 dan Faisal Amin dari SDN Manyar Sabrangan 2 hadir sebagai simbol transformasi digital di sekolah dasar.
Kehadiran mereka merupakan bagian dari inisiatif strategis antara Moonton Games dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya melalui program MLBB Goes to School. Sebagai Teacher Ambassador, keduanya membagikan kesaksian tentang bagaimana gim daring kini menjadi katalisator perubahan karakter di lingkungan sekolah.
Riries Wahyu menyoroti bahwa kehadiran program MLBB Goes to School sangat membantu para pendidik dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks. Program ini dirasakan bukan sekadar ajang turnamen, melainkan sebuah kurikulum informal yang membantu guru menstrukturkan hobi siswa menjadi kegiatan edukatif.
“Kewajiban utama saya memang mendidik. Tapi seiring perkembangan zaman, belajar itu tidak harus selalu duduk diam di kursi dan menatap papan tulis,” tegas Riries di hadapan audiens panggung M7.
Ia mengakui bahwa program ini memberikan kerangka kerja yang jelas bagi guru untuk masuk dan memahami dunia anak-anak secara lebih mendalam. Melalui Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), guru terbantu dalam mengajarkan soft skills yang selama ini sulit disimulasikan di kelas biasa.
“Program ini sangat membantu kami mengarahkan anak-anak. Kami tidak memaksa mereka bermain, tapi mewadahi minat yang sudah ada. Lewat sini, kami ajarkan regulasi emosi saat kalah, berpikir strategis, kerja sama tim, dan etika digital,” tambahnya.
Dampak positif dari inovasi ini dibuktikan secara nyata oleh Faisal Amin yang berhasil membuka ruang kompetisi sehat bagi para siswanya. Program tersebut memungkinkan siswa tingkat sekolah dasar bersaing dengan ratusan hingga ribuan sekolah lain di Surabaya dan Jawa Timur.
Di hadapan audiens internasional, Faisal dengan bangga menceritakan rekor impresif tim sekolahnya yang berhasil mencetak prestasi membanggakan. “Berkat pembinaan yang terarah, anak-anak kami berhasil melewati 15 pertandingan tanpa kalah sama sekali,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan meriah.
Faisal menekankan bahwa pencapaian luar biasa ini mustahil terjadi tanpa ekosistem pendukung yang dibangun secara profesional oleh pengembang gim. Program ini memungkinkan guru berperan lebih dari sekadar pengajar akademik, tetapi juga bertindak sebagai manajer mental bagi para atlet cilik.
“Sebelum bertanding, saya memimpin mereka berdoa dan memberi motivasi. Kuncinya adalah fokus dan konsistensi. Ini membuktikan bahwa game bisa jadi jalur prestasi jika diarahkan dengan benar,” jelas Faisal.
Kehadiran para guru Surabaya di panggung dunia M7 Jakarta mengirimkan pesan kuat mengenai sinergi konkret antara institusi pendidikan dan industri gim. Program MLBB Goes to School dinilai sukses mengubah stigma negatif penggunaan gawai menjadi peluang emas bagi pengembangan karakter generasi muda.
Dengan dukungan penuh Dinas Pendidikan Kota Surabaya, para pengajar ini membuktikan bahwa keterbukaan sekolah terhadap teknologi dapat melahirkan ruang aman yang produktif. Esports kini terbukti mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki mental juara dan integritas tinggi. [ris/beq]






