Surabaya (beritajatim.com) – Ambruknya tower provider setinggi 15 meter di atas rooftop Surabaya Hotel School (SHS), Jalan Joyoboyo, pihak pengelola mengungkap kejadiannya terjadi saat proses belajar mengajar di kelas masih berlangsung, hari Jumat (23/1/2026).
Pengelola Sekolah Perhotelan SHS, Vitara Yudha (53), menyampaikan bahwa ambruknya tower itu pelan-pelan, tidak langsung menghentak ke dasar tanah.
“Tidak langsung prak begitu, kalau langsung prak pasti dampaknya lebih besar ya,” ujar Vitara pada Jumat (23/1).
Ia menceritakan, saat melihat tower ambruk dari dalam kelas para siswa kemudian disuruh keluar gedung. Sementara pembelajaran dihentikan dan disuruh pulang.
“Dampaknya kan ada pada gedung sehingga pembelajaran siswa kita liburkan dulu, seperti itu,” jelasnya.
Vitara mengaku, bahwa tower 15 meter itu sudah rutin dilakukan maintenance secara berkala. Tapi karena belakangan ini angin kencang sering terjadi di Surabaya, diduga menjadi penyebab kuat tower tersebut kehilangan ketahanannya dan mudah ambruk.
“Mungkin salah satu penyebabnya dari angin kencang itu. Kalau kemarin-kemarin angin kencang juga, hanya saja kan kemarin masih kokoh, masih kuat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa proses pembelajaran di sekolah SHS nantinya akan lebih melihat kondisi penanganan dari petugas, apabila Senin sudah memungkinkan masuk, maka siswa sudah bisa memulai pembelajaran normal.
“Kalau harapan kami sih Senin sudah selesai. Karena Sabtu biasanya kan hanya setengah hari, kita memang biasa kosong,” tutupnya.
Diketahui, tower provider setinggi 15 meter di atas rooftop Surabaya Hotel School (SHS) di Jalan Joyoboyo ambruk diterjang angin kencang, pada hari Jumat (23/1/2026).
Tower tersebut ambruk menggantung di dinding luar banguan setinggi lima lantai, menimpa satu mobil operasional SHS, serta memutus jaringan listrik PLN ke Rumah Tangga sekitar pukul 12.50 WIB.
Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, Arif Sunandar Pranoto Negoro di lokasi kejadian menyampaikan, bahwa petugas gabungan telah dikerahkan untuk proses evakuasi.
“Bangunan sudah steril kami melakukan evakuasi pengosongan dan saat ini prosesnya adalah pengangkatan tower,” kata Arif, pada Jumat sore.
Dia menjelaskan, robohnya tower provider diduga akibat pengaruh angin kencang. Sesuai informasi dari BMKG, Arif menyebut kecepatan angin di Surabaya pada siang tadi mencapai 15 kilometer per jam.
“Kami melakukan evakuasi seaman mungkin. Di atas (rooftop) kondisi pondasi tower provider ini sudah tercerabut, tinggal menyisakan satu baut,” jelasnya. (rma/ted)






