Bondowoso (beritajatim.com) – Gerimis belum reda ketika langkah-langkah kecil itu dimulai. Jumat pagi (23/1/2025), sejumlah pengurus DPC PDI Perjuangan Bondowoso berkumpul di kawasan hutan lembah Pegunungan Argopuro, lereng Gunung Piramid, Kelurahan Curahdami. Udara dingin, tanah basah, dan jalur ekstrem menjadi pembuka perjalanan.
Sebelum pendakian, barisan pengurus berhenti sejenak. Apel digelar, doa dipanjatkan. Setelah itu, rombongan bergerak menembus jalur licin yang telah diguyur hujan sejak dini hari. Sepatu tergelincir, celana dan baju kotor oleh lumpur—tapi tak satu pun langkah mundur.
Sesampainya di Petak 16K, wilayah Perhutani KPH Bondowoso, kerja nyata dimulai. Bibit-bibit pohon ditanam bersama. Tangan-tangan yang basah lumpur justru menjadi saksi komitmen. Tak ada panggung, tak ada pidato panjang. Yang ada hanya tanah, bibit, dan tekad.
Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyebut kegiatan ini bukan sekadar seremonial.
“Ini penghijauan sekaligus pelepasan satwa liar, burung perkutut, dalam rangka memperingati HUT PDI Perjuangan ke-53 dan ulang tahun Ibu Ketua Umum Hj Megawati Soekarnoputri ke-79,” ujarnya.
Sinung menjelaskan, kawasan seluas 18,8 hektare tersebut—dengan izin Administratur Perhutani—akan menjadi hutan binaan PDI Perjuangan Bondowoso.
“Pesannya sederhana tapi tegas: Jagalah alam, maka alam akan menjaga kita. Jagalah hutan, maka hutan akan menjaga kita. Alam akan menemukan jalan kebenarannya sendiri,” katanya.
Usai penanaman, suasana berubah hangat. Pengurus PDI Perjuangan dan jajaran Perhutani duduk bersama, memotong tumpeng, makan seadanya di tengah hutan.
Di akhir kegiatan, puluhan burung perkutut dilepasliarkan—kembali ke habitatnya, tanpa sangkar, tanpa sekat.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menyebut kegiatan ini sebagai lanjutan dari program awal tahun.
“Kemarin kami menanam 2.026 bibit pohon jenis MPTS. Kebetulan Wakil Ketua DPRD Bondowoso dari PDI Perjuangan juga mendapat bantuan sekitar 1.000 bibit MPTS dan mahoni,” jelasnya.
Perhutani, kata Misbakhul, sangat mendukung langkah PDI Perjuangan. Bahkan ia berharap gerakan serupa ditiru partai lain.
“Menjaga hutan itu bukan soal warna bendera. Ini soal masa depan. Jaga hutan, maka hutan akan menjaga kita,” tegasnya.
Di lereng Piramid, politik tak hadir dalam baliho atau jargon. Ia hadir dalam lumpur, dalam keringat, dan dalam bibit kecil yang suatu hari akan tumbuh besar. Di tempat itu, ideologi bertemu ekologi. [awi/beq]






