Jombang (beritajatim.com) – Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kembali diterjang banjir luapan pada Kamis dini hari, 22 Januari 2026.
Banjir ini disebabkan oleh meluapnya dua sungai yang melintasi desa, yakni Sungai Gunting dan Sungai Catakbanteng, pada Rabu malam, 21 Januari 2026. Tiga dusun, yaitu Dusun Kebundalem, Pekunden, dan Dusun/Desa Kademangan, terendam dengan ketinggian air yang bervariasi antara 30 hingga 130 sentimeter.
Erwan Susanto (47), Kepala Dusun Kebondalem, menceritakan bahwa hujan deras mengguyur wilayah Mojoagung mulai malam. Hal serupa juga terjadi di wilayah hulu sungai, yakni Wonosalam. Hujan di kawasan hulu sejak sore hingga malam Akibatnya, dua sungai yang melintasi dusun tersebut meluap, menyebabkan air sungai masuk ke jalan desa dan menerobos ke permukiman.
“Air sungai kemudian meluap dan menerobos ke jalan desa. Lalu masuk ke permukiman warga. Hingga pukul satu dini hari, air mulai surut. Ini banjir rutin setiap musim hujan, biasanya pagi sudah hilang,” katanya. Meskipun air sempat meluap dan merendam rumah warga, banjir ini berangsur-angsur surut dengan cepat, dan hingga pagi hari tidak ada warga yang mengungsi.
Menurut data dari Pemdes (Pemerintah Desa) Kademangan , sekitar 700 Kepala Keluarga (KK) terdampak di tiga dusun tersebut. Di Dusun Kebondalem, air mencapai ketinggian sekitar 130 cm, dengan 380 KK terdampak.
Di Dusun Kademangan, ketinggian air sekitar 40 cm, menggenangi 150 KK, dan di Dusun Pekunden, ketinggian air mencapai 50 cm, dengan 200 KK terdampak. Meskipun air mulai surut pada pukul 01:10 WIB, upaya untuk mengamankan warga dan materiil terus dilakukan.
Pemerintah desa, melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi potensi bahaya. Masyarakat desa dihimbau untuk segera mengamankan barang-barang berharga dan, jika air terus meninggi, disarankan untuk segera pindah ke posko utama yang telah disiapkan di aula desa atau ke rumah kerabat yang tidak terdampak.
Tempat pengungsian sementara juga sudah disiapkan di balai desa, sementara dapur umum juga telah didirikan di aula balai desa.
Meskipun tidak ada korban jiwa atau kerugian materiil yang dilaporkan, BPBD terus melakukan asesmen dan pemantauan di lapangan. “Kita tetap waspada dan siap membantu warga yang terdampak,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jombang Syamsul Bahri.
Sebagai bagian dari langkah penanggulangan, petugas BPBD memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir. Kesiapsiagaan ini menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana yang sering terjadi setiap musim hujan. [suf]






