Pacitan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Hingga Januari 2026, sebanyak 138 Destana telah terbentuk dari total 167 desa yang ada di Pacitan.
Pembentukan Destana dilakukan secara bertahap setiap tahun. Pada 2025 lalu, BPBD Pacitan menetapkan lima desa sebagai Destana, yakni Desa Tanjungsari dan Purworejo di Kecamatan Pacitan, Desa Pelem dan Watukarung di Kecamatan Pringkuku, serta Desa Pucangombo di Kecamatan Tegalombo.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, mengatakan bahwa pada tahun 2026 fokus pembentukan Destana diarahkan ke desa-desa yang memiliki potensi bencana tanah longsor.
“Kalau untuk tsunami di wilayah pesisir, Destana sudah lumayan banyak terbentuk. Tahun ini kami lebih memprioritaskan wilayah rawan longsor,” jelas Yagus.
Menurutnya, keberadaan Destana diharapkan mampu mengubah paradigma penanggulangan bencana dari yang semula bersifat responsif menjadi preventif. Melalui Destana, masyarakat desa didorong lebih mandiri dalam mengenali ancaman, menganalisis risiko, hingga mampu memulihkan diri dari dampak bencana.
Dalam Destana, dibentuk pula Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat desa yang berperan aktif dalam mitigasi, perencanaan, serta penanganan darurat secara swadaya. Desa juga didorong memiliki pemetaan ancaman dan jalur evakuasi, termasuk data rinci titik rawan, rencana aksi mitigasi, dan rute evakuasi. “Ada kerja sama antara pemerintah desa, masyarakat, relawan, dan BPBD dalam penanggulangan bencana,” imbuhnya.
Keberlanjutan program Destana juga dijaga dengan mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam perencanaan pembangunan desa, seperti RPJMDes. Langkah ini dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat, di mana ketahanan iklim dan ketangguhan bencana menjadi salah satu fokus penggunaan Dana Desa tahun 2026. (tri/kun)






