Kediri (beritajatim.com) – Buruh tani di Desa Krosok, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung bertahan hidup dengan upah harian bernominal kecil dengan hari kerja yang tidak menentu sehingga mereka berada pada bawah garis kemiskinan.
Berangkat dari permasalahan ini, LMI menghadirkan program LMI Community Farm sebagai upaya pemberdayaan berkelanjutan bagi para buruh tani dan mendorong mereka membangun sumber penghidupan baru.
Program pemberdayaan di Desa Krosok ini didukung dengan 271 hektare lahan hijau yang mampu menghasilkan sekitar 81.300 ton hijauan pakan ternak per tahun. Potensi tersebut dimaksimalkan untuk menghidupkan kelompok peternak domba yang awalnya terdiri dari 4 orang pada 2021 silam dengan nama Kelompok Usaha Cahaya. Setiap anggota menerima dua domba indukan dan satu domba jantan jenis cross texel untuk dirawat dan dikembangbiakkan.
Mispan yang dipercaya menjadi Ketua Kelompok Usaha Cahaya mengatakan bahwa LMI telah membersamai setiap proses belajar kelompok peternak yang ia pimpin. Pendampingan dan pelatihan senantiasa diberikan agar domba-domba yang mereka rawat dapat bertambah jumlahnya setiap tahun. “Kami diajari cara membuat kandang, persalinan domba, dan pelatihan karantina domba yang sakit,” ujar Mispan, Selasa (20/1/2026).
Selain pelatihan dan pendampingan, keberlanjutan juga menjadi napas utama program ini. Sistem benefit sharing pembibitan diterapkan agar manfaat program terus meluas. Setelah dua tahun intervensi, Mispan dan anggota lain berkewajiban menyerahkan satu ekor domba indukan per tahun kepada kelompok guna mendukung penambahan anggota baru.
“Nanti anggota baru akan mendapatkan dua indukan betina dari kelompok peternakan dan satu indukan jantan dari LMI,” jelasnya.
Pemberdayaan tak berhenti pada ternak yang ada di dalam kandang. Berbagai pelatihan LMI berikan kepada para penerima manfaat agar kotoran domba diolah menjadi pupuk kohe, urine dimanfaatkan sebagai pestisida organik, dan limbah pertanian diolah menjadi pakan silase. Dari kandang hingga ladang, tercipta siklus yang saling menguatkan ekonomi desa.
Direktur Program LMI Yanuari Dwi Prianto mengatakan bahwa program yang telah berjalan selama empat tahun ini menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Setelah empat tahun, pada 2025 LMI Community Farm Desa Krosok telah mengelola 203 ekor domba senilai Rp365,4 juta. Dari 16 penerima manfaat, 56 persen di antaranya berhasil keluar dari garis kemiskinan,” ujar Yanuar.
Yanuar menyebutkan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari semangat dan usaha anggota kelompok serta para donatur yang telah memberi harapan dan kesempatan bertumbuh.
“Melalui proses berkelanjutan, LMI Community Farm tengah menapaki jalan menuju Desa Krosok yang lebih mandiri. Kami berharap Desa Krosok juga dapat tumbuh sebagai desa model pemberdayaan peternakan domba cross texel,” ujarnya penuh harap. [nm/suf]






