Surabaya (beritajatim.com)- Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah adalah buku memoar yang ditulis oleh aktris dan penulis Aurelie Moeremans.
Buku ini dirilis secara digital pada 10 Oktober 2025 dan kemudian dibagikan gratis, sebelum akhirnya versi cetaknya mulai dipersiapkan karena permintaan pembaca yang melonjak sejak awal 2026.
Melansir akun Instagram @aurelie karya ini bukan sekadar otobiografi selebritas, tetapi sebuah catatan pengalaman hidup yang sangat pribadi, mengangkat isu grooming, manipulasi emosional, dan pemulihan trauma berdasarkan pengalaman nyata sang penulis sejak usia remaja.
Buku Broken Strings mengisahkan perjalanan hidup Aurelie Moeremans sejak masa kecil hingga masa remaja, dengan fokus kuat pada pengalaman pahit sebagai korban grooming sejak usia 15 tahun.
Pada usia yang masih sangat muda, Aurelie bertemu dengan seorang pria dewasa yang dalam bukunya disamarkan sebagai “Boby” yang kemudian memulai rangkaian hubungan tidak sehat penuh manipulasi emosional, kontrol, dan kekerasan psikologis.
Aurelie menggambarkan bagaimana ia dihadapkan pada situasi yang membingungkan dan menyakitkan, serta bagaimana ia berjuang memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Buku ini tidak memoles kisah pahit itu; Aurelie menulisnya tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban yang berani berbicara tentang luka batinnya.
Di bagian akhir, Broken Strings menjadi bukan hanya kisah tentang penderitaan, tetapi juga kisah tentang proses penyembuhan, belajar memulihkan diri, dan mendapatkan kembali kekuatan setelah melewati pengalaman traumatis tersebut.
Judul Broken Strings merupakan metafora kuat yang menggambarkan masa muda yang retak dan hilang. Seperti senar alat musik yang putus, Aurelie merasa bahwa masa remajanya tidak harmonis lagi setelah masa traumatik itu, di mana bagian penting hidupnya “terlepas” dari kendali dirinya sendiri.
Buku pertama kali dirilis dalam bentuk e-book gratis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) sebelum versi cetaknya disiapkan. Semua cerita dalam buku ini berdasarkan pengalaman pribadi Aurelie sendiri.
Gaya Penulisan: Ditulis dengan gaya reflektif, jujur, dan penuh empati, tanpa memperindah detail trauma.
Aurelie berharap kisah ini dapat menjadi suara bagi para penyintas trauma emosional dan kekerasan hubungan, serta memperkuat kesadaran publik akan bahaya grooming.
Sejak buku ini menjadi viral di media sosial, respons yang muncul sangat beragam: banyak pembaca yang merasa terinspirasi dan menemukan kekuatan dalam kisah ini, sementara di sisi lain Aurelie juga mendapat kritik dan ancaman dari pihak tertentu yang tidak setuju akan kisah yang diungkapkan.
Namun, pengalaman Aurelie membuka diskusi penting tentang isu perlindungan anak, manipulasi emosional, serta pentingnya keberanian untuk berbicara tentang trauma yang selama ini sering disimpan sendiri.
Broken Strings bukan hanya memoar pribadi; ia menjadi: pengingat kuat tentang tanda-tanda hubungan toksik, aeruan untuk para penyintas agar berani bersuara dan lat edukasi sosial soal grooming dan kekerasan emosional. [aje]






