Sampang (beritajatim.com) – Dua nenek bersaudara yang hidup di sebuah gubuk reyot di Dusun Lenteng, Desa Nyeloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, viral di media sosial setelah kondisi tempat tinggal dan kehidupan mereka dinilai sangat memprihatinkan.
Kedua nenek tersebut diketahui bernama Masdijah (70) dan Patha (60). Keduanya telah lama tinggal bersama tanpa penghasilan tetap dan jauh dari akses kehidupan yang layak. Mereka menempati gubuk kecil berdinding anyaman bambu yang telah lapuk, beratapkan material bocor, serta berlantaikan tanah.
Kondisi itu semakin memprihatinkan saat musim hujan tiba. Air kerap masuk ke dalam gubuk, membuat tempat tinggal mereka tidak layak huni. Situasi diperparah dengan kondisi Masdijah yang sedang sakit dan hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur seadanya.
Viralnya kisah dua nenek tersebut memicu respons cepat dari berbagai pihak. Sejumlah relawan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, serta lembaga sosial mulai berdatangan ke lokasi untuk menyalurkan bantuan kebutuhan pokok dan bentuk bantuan lainnya.
Salah satu pihak yang turut aktif memberikan bantuan adalah Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Kedungdung. Melalui gerakan kepedulian sosial, PCM Kedungdung menyalurkan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, gula, serta bantuan uang tunai.
Ketua PCM Kedungdung, H. Qorib, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari dakwah sosial Muhammadiyah yang hadir untuk membantu masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, khususnya lansia.
“Bantuan ini adalah wujud nyata kepedulian sosial Muhammadiyah. Kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” kata H. Qorib, Selasa (13/1/2026).
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menjaga solidaritas sosial serta memberi perhatian serius terhadap lansia yang hidup dalam kondisi tidak layak.
“Semoga bantuan ini, meskipun tidak seberapa, bisa meringankan beban dan menjadi awal dari perhatian berkelanjutan bagi kedua nenek tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Patha, adik dari Masdijah, mengaku hanya bisa berharap adanya bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Ia mengungkapkan keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu memperbaiki atau membangun rumah sendiri.
“Saya tidak tahu mau jawab apa, Pak. Ya pengin kalau seandainya rumah ini dibangun, cuma saya tidak punya apa-apa. Tapi kalau memang bisa dibantu oleh pemerintah, saya sangat bersyukur,” ucap Patha dengan suara lirih.
Kondisi dua nenek bersaudara ini menjadi potret nyata kemiskinan ekstrem yang masih ditemukan di wilayah pedesaan Madura, sekaligus memicu dorongan agar perhatian pemerintah dan lembaga terkait tidak berhenti pada bantuan sementara, melainkan solusi jangka panjang. [sar/beq]






