Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wahid, menekankan agar seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 1447 H/2026 M melayani jemaah lansia dengan empati tinggi selayaknya memperlakukan orang tua sendiri.
Pesan moral ini menjadi poin krusial dalam pembukaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026) yang digelar semi militer, guna memastikan jemaah mendapatkan perlindungan dan kenyamanan selama di tanah suci.
Abdul Wahid memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Diklat ini karena memiliki peran strategis dalam membentuk petugas yang profesional dan responsif. Ia menegaskan bahwa para petugas yang telah ditetapkan oleh Menteri Haji dan Umrah wajib menjalani pembekalan menyeluruh agar siap menghadapi tantangan operasional di lapangan yang sangat dinamis.
“Saya mengapresiasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Diklat PPIH Tahun 1447H/2026M memiliki peran yang sangat strategis dalam melayani jemaah haji,” ujar Abdul Wahid di hadapan para peserta diklat.
DPR RI menilai peningkatan kapasitas petugas melalui diklat akan berdampak langsung pada performa Kementerian Haji dan Umrah secara kolektif. Setiap personel dituntut tidak hanya unggul secara administratif, tetapi juga memiliki ketangguhan sikap dalam memberikan pembinaan dan pengendalian operasional di tengah kerumunan jutaan jemaah dari berbagai negara.
Abdul Wahid menjelaskan bahwa tujuan utama Diklat PPIH Arab Saudi adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petugas agar mampu menjalankan tugas secara efektif, efisien, dan profesional. Kesiapan ini dianggap sebagai syarat mutlak agar jemaah haji Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari daerah dengan basis jemaah besar seperti Jawa Timur, dapat beribadah dengan khusyuk.
“Peningkatan kapasitas ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kinerja pribadi petugas sekaligus kinerja Kementerian Haji dan Umrah secara keseluruhan. Selain itu, diklat juga menjadi sarana pengembangan potensi diri petugas dalam menghadapi perubahan dan tantangan selama bertugas di Arab Saudi,” jelas Abdul Wahid.
Terkait interaksi langsung dengan jemaah di tanah suci, Abdul Wahid meminta petugas mengedepankan sisi kemanusiaan dan keikhlasan. Ia menginstruksikan agar jemaah lansia diberikan perhatian ekstra mengingat keterbatasan fisik yang mereka miliki selama menjalani rangkaian ibadah yang berat.
“Jika jemaah yang dibantu adalah orang tua, anggaplah mereka sebagai orang tua kita sendiri. Jika sebaya, anggaplah sebagai saudara. Dengan empati dan keikhlasan, pelayanan kepada jemaah akan menjadi ibadah yang bernilai tinggi,” tegasnya.
DPR RI juga menyoroti pentingnya perbaikan berkelanjutan pada seluruh lini layanan, mulai dari penerbangan, akomodasi, hingga kesehatan. Petugas PPIH diminta membangun koordinasi yang solid dan tidak ragu mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat dengan tetap melaporkan kendala tersebut kepada pimpinan secara berjenjang.
“Utamakan melayani jemaah haji. Bangun koordinasi dan kerja sama dengan sesama petugas apabila menghadapi kesulitan. Segera laporkan kepada pimpinan jika terdapat hal-hal yang membutuhkan penanganan ekstra dan keputusan cepat,” pungkas Abdul Wahid. [ian/aje]






