Lamongan (beritajatim.com) – Nilai ekspor Kabupaten Lamongan sepanjang tahun 2025, menunjukkan peningkatan signifikan, didominasi komoditas industri seperti baja dan aluminium.
Berdasarkan data Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) nilai ekspor Lamongan pada 2025 mencapai sekitar Rp22 triliun. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp20 triliun.
“Nilai ekspor tahun 2025 bahkan melampaui target yang ditetapkan, sebesar Rp21,8 triliun,” Kepala Diskoperindag Lamongan, Anang Taufik, saat dikonfirmasi, Jumat (9/1/2026).
Kenaikan nilai ekspor 2025 bukan disebabkan bertambahnya jumlah perusahaan eksportir, melainkan meningkatnya permintaan dari negara tujuan ekspor.
“Kalau dari sisi perusahaan sebenarnya masih sama. Produknya juga tidak banyak berubah, tetapi permintaan dari luar negeri yang meningkat, sehingga nilai ekspornya ikut naik,” ujarnya.
Anang menjelaskan, Lamongan saat ini mengekspor berbagai produk ke sekitar 10 negara tujuan. Namun komoditas yang memiliki andil besar terhadap kenaikan nilai ekspor berasal dari sektor industri logam.
“Yang paling menunjang itu dari salah satu perusahaan, PT Han, yang memproduksi baja lembaran dan aluminium. Permintaannya cukup tinggi, sehingga sangat berpengaruh terhadap total nilai ekspor Lamongan,” katanya.
Meski demikian, Anang menjelaskan bahwa komoditas lain seperti produk perikanan dan olahan hasil laut, tetap diekspor dan memiliki pasar tersendiri.
“Produk perikanan dan olahan tetap ada, tetap berjalan. Hanya saja, yang paling dominan saat ini memang dari industri baja,” katanya.
Untuk tahun 2026, Pemkab Lamongan menargetkan nilai ekspor mencapai Rp22,9 triliun. Anang optimistis target tersebut dapat terlampaui, meskipun tetap bergantung pada kondisi dan regulasi global.
“Kalau melihat tren dan permintaan, peluang untuk melampaui target itu ada, bisa jadi tembus Rp23 triliun. Namun kita juga harus melihat regulasi global yang bisa berubah sewaktu-waktu,” tuturnya.
Menurut Anang, kebijakan perdagangan internasional, termasuk regulasi ekspor di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, sempat mempengaruhi kinerja ekspor Lamongan. Namun, kondisi tersebut kini mulai berangsur stabil.
“Dampak global memang terasa, terutama saat ada pembatasan ekspor. Tapi sekarang sudah mulai membaik dan kami optimistis ekspor Lamongan ke depan akan terus meningkat,” pungkasnya. [fak/aje]






