Pamekasan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan mencatat sebanyak 419 peristiwa bencana hidrometeorologi terjadi di wilayah setempat sepanjang tahun 2025. Jumlah total kejadian yang terhitung sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2025 tersebut menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Plt Kalaksa BPBD Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, menjelaskan bahwa data tersebut diklasifikasikan ke dalam kategori bencana basah dan kering. “Selama 2025, tercatat sebanyak 419 peristiwa bencana terjadi di Pamekasan, meliputi banjir, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi hingga kebakaran,” ujarnya pada Kamis (8/1/2026).
Berdasarkan rincian data, sebanyak 167 peristiwa merupakan bencana hidrometeorologi basah yang dipicu oleh cuaca ekstrem. Sementara itu, bencana kategori kering mendominasi dengan total mencapai 221 peristiwa yang tersebar di berbagai wilayah.
Dhofir menambahkan bahwa puncak bencana di Bumi Gerbang Salam justru banyak terjadi pada awal tahun, sedangkan pada akhir tahun kondisi relatif lebih landai. Peristiwa bencana basah didominasi oleh banjir dan tanah longsor yang wilayah terdampaknya tersebar dari sisi utara hingga selatan.
Khusus untuk bencana tanah longsor, intensitas kejadian paling tinggi tercatat berada di wilayah utara Kabupaten Pamekasan. “Artinya peristiwa hidrometeorologi basah yang terjadi didominasi cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor, wilayah terdampak tersebar di utara, tengah, hingga selatan Pamekasan,” jelasnya.
Pihak BPBD menilai faktor penyebab bencana selama dua tahun terakhir relatif konsisten, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Hal ini memicu gangguan ekosistem yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana di titik-titik rawan pemukiman warga.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD telah menyiagakan Posko Terpadu Hidrometeorologi yang beroperasi sejak Desember 2025 lalu. Pendirian posko ini bertujuan untuk memastikan kesiapsiagaan personel dan ketersediaan logistik dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem di awal tahun 2026.
Selain penyiagaan personel, sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat juga gencar dilakukan guna meningkatkan kemampuan evakuasi mandiri. Upaya ini diharapkan dapat menekan angka korban maupun kerugian materiel saat bencana benar-benar terjadi.
Meski demikian, Dhofir mengakui bahwa proses penanganan di lapangan masih sering menemui kendala teknis seperti keterbatasan personel dan akses lokasi. “Terdapat beberapa kendala yang menjadi hambatan, semisal miskomunikasi, keterbatasan personil, hingga lokasi terdampak yang sulit dijangkau,” imbuhnya.
Namun, kendala tersebut diklaim tidak akan menyurutkan komitmen BPBD dalam memberikan pelayanan kedaruratan bagi masyarakat Pamekasan. Memasuki Januari 2026, kondisi kebencanaan di Pamekasan saat ini dilaporkan masih dalam kategori stabil dan terkendali.
Hingga pekan pertama Januari, hanya tercatat satu kejadian pohon tumbang akibat angin kencang di salah satu ruas jalan. Berdasarkan pola tahunan, puncak bencana di Jawa Timur biasanya mulai terjadi secara signifikan pada periode November hingga Desember.
Pemerintah mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dari kanal resmi pemerintah guna meningkatkan kewaspadaan. “Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana di lingkungan masing-masing,” pungkas Dhofir. [pin/beq]






