Blitar (beritajatim.com) – Ambisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar dalam menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui pendirian Koperasi Desa Merah Putih kini menghadapi tantangan serius akibat faktor cuaca. Tingginya intensitas hujan sejak awal tahun 2026 menghambat proses pembangunan fisik koperasi desa di sejumlah wilayah.
Program strategis tersebut dirancang menjangkau seluruh wilayah administratif Kabupaten Blitar, yang terdiri dari 220 desa dan 28 kelurahan. Dengan demikian, total akan dibangun 248 Koperasi Desa Merah Putih yang direncanakan beroperasi merata di setiap desa dan kelurahan di Bumi Penataran.
Namun realisasi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Curah hujan yang tinggi dan berlangsung hampir setiap hari membuat proses konstruksi bangunan koperasi mengalami perlambatan. Para pekerja terpaksa menyesuaikan metode kerja, bahkan menghentikan sementara aktivitas pembangunan demi menjaga keselamatan serta kualitas bangunan.
“Perlu jadi pertimbangan adalah cuaca, kalau targetnya akhir Januari selesai dan cuaca mendukung pasti bisa,” ungkap Bupati Blitar Rijanto, Jumat (2/1/2026).
Kondisi tersebut mendorong Pemkab Blitar mengambil kebijakan relaksasi terhadap target penyelesaian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Relaksasi diberikan dengan mempertimbangkan faktor kualitas bangunan agar koperasi yang dibangun dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan.
“Tapi kalau terkendala hujan terus menerus karena hujannya cukup tinggi mohon nanti ada toleransi target akhir Januari itu bisa diperpanjang,” tegas Rijanto.
Meski demikian, Pemkab Blitar tetap memasang target awal pada akhir Januari 2026 sudah terbentuk sebanyak 54 Koperasi Desa Merah Putih. Target tersebut bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan apabila kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut, dengan prioritas utama menjaga mutu bangunan koperasi desa agar benar-benar layak digunakan. [owi/beq]






