Jember (beritajatim.com) – Sukses memperbaiki kondisi finansial tidak menjamin direksi Perusahaan Daerah Perkebunan Kahyangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipertahankan Bupati Muhammad Fawait hingga masa jabatan selesai.
Dilantik Bupati Hendy Siswanto pada 15 Oktober 2021, Direktur Utama PDP Kahyangan Sofyan Sauri, Direktur Produksi, Pemasaran dan Pengembangan Moh. lzmaul Haqqi, dan Direktur Umum dan Keuangan Leny Puspitasari seharusnya mengakhiri masa jabatan pada 15 Oktober 2026.
Namun melalui Kepala Badan Pendapatan Daerah Jember Achmad Imam Fauzi, Bupati Fawait meminta Sofyan dan kawan-kawan untuk mengundurkan diri sebelum matahari 1 Januari 2016 terbit. “Kalau memang itu petunjuk dari Pak Bupati dan harus kami lakukan, tidak masalah,” kata Sofyan, Sabtu (27/12/2025).
Sofyan dilantik menjadi Direktur Utama PDP Kahyangan pada saat kondisi perusahaan buruk. “Sudah lima tahun lebih ini tidak ada pengembangan atau penanaman bibit baru. Tanaman yang kita miliki tua semua. Tidak ada produksi lagi. Kita harus tanam lagi untuk lima tahun,” kata Bupati Hendy Siswanto, 13 Oktober 2021.
Berdiri pada 1969, kondisi finansial PDP Kahyangan memburuk sejak 2013. Setelah berkontribusi Rp. 9,673 miliar untuk PAD Jember pada 2012, terjadi penurunan kontribusi menjadi Rp 6,966 miliar setahun kemudian. Penurunan tajam kontribusi untuk PAD kembali terjadi pada 2014 menjadi Rp 3,548 miliar.
Setelah itu, praktis Kahyangan tak menyumbangkan apapun untuk PAD Jember. Padahal sejak berdiri pada 1969 hingga 2014, Kahyangan tak pernah absen menyetorkan laba untuk PAD dengan nominal total kurang lebih Rp 100,044 miliar.
Saat Sofyan dilantik menjadi direktur, PDP Kahyangan merugi Rp 2 milar pada 2020 dan Rp 1,4 miliar pada 2021. Dalam waktu tiga tahun sejak dilantik, Sofyan dan kawan-kawan mengubah kerugian menjadi keuntungan.
“Prognosa saya 31 Desember 2025 insyaallah laba sekitar Rp 500 juta-600 juta. Kalau 2026, dalam RKA (Rencana Kerja dan Anggaran) kami rencanakan sekitar Rp 1 miliar,” kata Sofyan.
Menurut Sofyan, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus dibenahi PDP Kahyangan. “Paling krusial adalah sumber daya manusia dan aset. Aset kami belum terkelola optimal. Insyaallah itu saja. Kalau digitalisasi sistem dan sejumlah pekerjaan rumah besar seperti piutang karet Rp 4 miliar dan hak guna usaha 2.600 hektare sudah dikerjakan,” katanya.
Selama masa kepemimpinan Sofyan, PDP Kahyangan juga melakukan diversifikasi usaha. Dia berharap agar cakupan bisnis PDP Kahyangan bisa diperluas menjadi aneka usaha. “Kebetulan kemarin di Asosiasi Persatuan BUMD Aneka Usaha Seluruh Indonesia, saya termasuk salah satu pengurus nasional,” katanya. [wir]







1 Komentar
Sudan jadi budaya sejak rezim terdahulu kalau penempatan Direksi dan Komisaris di BUMN dan BUMD bukan lah profesionalisme, tp bagi2 kue.