Blitar (beritajatim.com) – Erupsi mungkin telah berlalu, namun jejak kelabu yang ditinggalkan Gunung Semeru masih tercetak jelas di bumi Lumajang. Di sana, hamparan hijau yang dulunya menjadi sumber penghidupan para petani, kini berubah menjadi lautan material vulkanik yang gersang.
Tidak ada lagi padi yang menguning, yang ada hanyalah sisa-sisa perjuangan untuk bangkit kembali. Di tengah situasi yang masih memprihatinkan itulah, sebuah rombongan dari Kota Blitar menembus jalur berdebu.
Membawa misi kemanusiaan, Lembaga Zakat Baitul Maal Amanah (BMA) Kota Blitar bersama Relawan Blitar Raya hadir bukan sekadar membawa logistik, melainkan membawa pesan bahwa para penyintas tidak berjuang sendirian.
Total bantuan sembako senilai Rp 18 juta disalurkan langsung ke jantung lokasi terdampak, menyasar warga yang hingga kini masih tertatih menata hidup.
Direktur Pelaksana BMA Blitar, Endy Samulyo, tak bisa menyembunyikan keharuannya saat tiba di lokasi. Pemandangan di depannya adalah realitas keras yang harus dihadapi warga setiap hari.
“Sampai saat ini masih banyak warga yang belum bisa kembali berladang atau bertani. Karena semuanya hancur diterjang lahar,” ujar Endy dengan nada prihatin pada Sabtu (13/12/2025).
Bagi warga setempat, tanah adalah nyawa. Ketika lahar menutup tanah mereka, maka terputus pula nadi ekonomi keluarga. Di sudut lain, Endy menyaksikan anak-anak yang seharusnya belajar di ruang kelas yang nyaman, kini harus menuntut ilmu di bawah tenda-tenda darurat. Panas dan debu menjadi kawan akrab mereka sehari-hari.
“Alhamdulillah BMA Blitar bersama Relawan Blitar Raya hadir ke lokasi dampak gunung Semeru memberikan setetes harapan,” tutur Endy.
Istilah “setetes harapan” itu mewujud dalam 143 paket sembako, makanan ringan, hingga susu yang dibagikan. Paket-paket ini adalah amanah titipan kepercayaan dari para donatur di Blitar yang menyisihkan rezekinya untuk saudara mereka yang tak dikenal wajahnya, namun dekat di hati.
Saat bantuan susu dan makanan ringan dibagikan, senyum tipis mulai merekah di wajah anak-anak tenda darurat tersebut. Sejenak, mereka bisa melupakan trauma gemuruh gunung yang pernah menghantui.
Perjalanan BMA Blitar ke Semeru kali ini bukan tentang angka Rp 18 juta semata. Ini tentang jembatan kepedulian. Endy menegaskan bahwa setiap butir beras dan setiap kotak susu yang tersalurkan adalah bukti gotong royong masyarakat yang tak luntur oleh jarak.
“Kami datang mengantarkan kepedulian titipan dari saudara untuk warga terdampak Erupsi Semeru. Amanah bapak ibu berupa 143 paket sembako dan berbagai makanan serta susu kami bagikan ke warga dan juga anak-anak terdampak,” jelasnya.
Menutup perbincangan, Endy melangitkan doa bagi para donatur yang telah memungkinkan misi kemanusiaan ini terjadi.
“Semoga kepedulian dari bapak ibu semuanya Allah balas dengan pahala serta rezeki yang berlipat,” pungkasnya dengan penuh harap.
Di bawah bayang-bayang Semeru yang gagah namun menyimpan duka, bantuan dari Blitar ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang mampu menembus batas wilayah dan bencana. (Owi)






