Madiun (beritajatim.com) – Dua pekan setelah insiden keracunan massal yang menimpa 49 siswa dari tiga SDN di wilayah Mejayan, hingga Jumat (12/12/2025) belum ada satu pun kejelasan resmi mengenai penyebab keracunan maupun hasil uji laboratorium yang telah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Jawa Timur di Surabaya.
Padahal, sepekan yang lalu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, sempat memberikan pernyataan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari BLK Provinsi.
“Sampai hari ini hasil lab belum keluar. Kami masih menunggu konfirmasi dari BLK Provinsi. Prosesnya memang bisa memakan waktu 1 sampai 2 minggu, tergantung jenis uji yang dilakukan,”ujar dr. Heri, jumat (5/12/2025).
Namun satu minggu berlalu sejak pernyataan tersebut dikeluarkan, tidak ada perkembangan terbaru dan hasil laboratorium yang dijanjikanpun belum juga dipublikasi.
Yang membuat publik semakin bertanya-tanya, bahkan ketika dikonfirmasi ulang hari ini, Jumat (12/12/2025) melalui sambungan whatsapp, Kadinkes tidak merespons sama sekali.
Sikap diam ini menambah kesan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, seolah tidak menunjukkan progres yang berarti dalam penanganan kasus yang melibatkan puluhan anak ini mengalami keracunan.
Minimnya transparansi dan komunikasi dari Dinkes membuat masyarakat terutama para orang tua korban semakin gelisah. Publik menunggu kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sementara proses investigasi justru terkesan berjalan lambat dan tidak terkoordinasi.
Kini, hampir dua pekan setelah kejadian, pertanyaan itu kembali menggema:
Apa yang sedang terjadi di balik lambatnya hasil lab? Dan mengapa Dinkes Madiun memilih diam seolah cuci tangan pada saat publik menuntut jawaban? Waktu terus berjalan, tetapi jawaban tak kunjung datang. (rbr/ted)






