Surabaya (beritajatim.com) – Upaya mengembangkan sepak bola putri di Jawa Timur bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketelatenan agar pembinaan bisa berkelanjutan hingga mampu mengantarkan pemain muda tampil di turnamen kelompok umur.
Salah satunya dilakukan oleh Manager Persegres Putri, Agita Desi Dwijaning, yang terus membangun fondasi sepak bola perempuan di Gresik. Timnya aktif mengikuti Hydroplus Soccer League yang berlangsung di Surabaya sejak September 2025 hingga Februari 2026.
Agita menilai perkembangan sepak bola putri di Jawa Timur semakin menggembirakan dengan hadirnya kompetisi berjenjang seperti Hydroplus Soccer League dan Milklife Soccer yang membuka ruang pembinaan mulai usia 10 hingga 18 tahun.
“Alhamdulillah sepak bola putri makin pesat. Kompetisi usia dini membuat kami di Gresik semakin terpacu untuk membina,” ujar Agita, Rabu (10/12/2025).
Persegres Putri yang membina kelompok usia 10, 12, dan 15 tahun memiliki tantangan tersendiri. Gresik sebagai kota santri dianggap sebagian masyarakat masih memandang sepak bola sebagai olahraga yang didominasi laki-laki.
“Kadang masih dianggap tabu. Di Gresik, kami harus pelan-pelan memberi pemahaman ke orang tua,” jelasnya.
Sebagai pengajar di SMPN 4 Gresik, Agita juga memperluas penjaringan bakat ke sekolah lain seperti SMPN 3 Gresik, SMPN 17 Gresik, dan SMPN 1 Gresik. Ia memanfaatkan berbagai cara untuk memperkenalkan sepak bola putri, termasuk penggunaan media sosial.
“Saya ingin menyalurkan bakat anak-anak. Kalau orang tua setuju, saya jelaskan risikonya, kelebihannya, semuanya transparan,” lanjutnya.
Dukungan datang dari Askab PSSI Gresik, pengurus PSIS, hingga para orang tua. Saat ini Persegres Putri memiliki 22 pemain dengan tingkat kehadiran latihan stabil di angka 15–17 pemain. Mayoritas skuad berasal dari kelompok usia U-15 ke bawah, termasuk U-11, U-12, dan U-13. (way/but)






