Jombang (beritajatim.com)--Udaranya sangat segar, kanan-kiri badan jalan berbaris tanaman kayu jati, dan di antara hutan jati masih terbentang persawahan dan pemukiman penduduk. Itulah potret lingkungan hutan jati di Kecamatan Ploso, Kabuh, dan Plandaan di Kabupaten Jombang yang tampak menghijau.
Dengan jarak tempuh sekitar 52 kilometer (KM), anggota klub gowes Wedang Tape Community (WTC) asal Kabupaten Gresik, Minggu (7/12/2025) pagi, gowes di kawasan hutan jati di tiga kecamatan di Jombang. “Kita start dari Desa Kebonagung, Kecamatan Ploso, Jombang” kata Tuhu Prasetyo (63), pensiunan PT Petrokimia Gresik (Persero), salah satu pimpinan klub WTC Gresik.
Sebanyak 12 penghobi gowes MTB klub WTC itu: Tuhu Prasetyo, Parno S, Bambang Cahyo Utomo (BCU), Asripan, Ainur Rohim, Hengky, Atmaji, Soeharto, Efendi Faisol, Putut Nizam, Ghozali, dan Eko menjelajah kawasan hutan jati di tiga kecamatan di Jombang itu sekitar 3 jam. Ada trek jalan beraspal, beton semen, jalan off road, jalur datar, dan jalur naik turun. “Kombinasi jalurnya lengkap. Ada off road dan on road,” tambah Soeharto.
Dari tiga kecamatan itu, ada 11 desa yang dijelajah pegowes WTC: Desa Kebonagung di Kecamatan Ploso; Desa Tondowulan, Desa Darurejo, Desa Klitih, Desa Plabuhan, Desa Bangsri, Desa Plandaan, dan Desa Purisemanding semuanya di Kecamatan Plandaan. Sedang di Kecamatan Kabuh ada tiga desa yang dilintasi, yakni Desa Tanjung Wadung, Desa Marmoyo, dan Desa Jipuhrapah.
“Rutenya menantang. Keluar masuk desa-desa yang dikelilingi hutan jati dan persawahan penduduk. Udaranya segar dan menyehatkan,” kata Parno (51), karyawan PT Semen Indonesia Grup (SIG) yang telah puluhan tahun melakoni olahraga gowes.
Mengambil titik start di Posko Kades Kebonagung, Kecanatan Ploso, pada hari Minggu (7/12/2025) pagi sekitar pukul 08.00 WIB, sebanyak 12 penghbi MTB itu mulai menggenjot pedal sepedanya. Rute awal yang dilalui merupakan badan jalan beton semen yang menghubungkan antardesa. Banyak deretan rumah warga. Tak cuma itu, lahan persawahan juga membentang di antara rumah warga.
Makin jauh dari titik start, penghobi MTB mulai masuk kawasan hutan jati di Desa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh. Kontur jalan di KM 10 itu mulai menanjak. Kondisi ini membuat genjotan pedal sepeda mesti lebih kencang dan kuat, agar mampu melalap trek menanjak tersebut.
“Lumayan mulai ada tanjakan. Biar keluar keringat,” ujar Ghozali, yang biasa main road bike dan pensiunan PT Swadaya Graha (SI Grup).
Lepas dari KM 10 yang masuk Dewa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh, penghobi gowes itu memasuki kawasan hutan jati yang berada di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh. Genjotan pedal MTB makin bersemangat, karena jalanan beton semen itu cukup mulus. Traffic kendaraan rendah dan udara segar.
Kendati matahari mulai meninggi dan panas terik datang menyengat, realitas itu tak menyurutkan semangat dan endurance 12 penghobi gowes klub WTC itu. “Medannya asyik, udaranya segar,” kata Hengky Poernomo (64), pensiunan PT Petrokimia Gresik (Persero).
Setelah melalap trek badan jalan aspal dan beton semen, mereka mulai masuk Desa Jipuhrapah, Kecamatan Kabuh hingga Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, 12 goweser klub WTC Gresik dihadapkan pada badan jalan off road. Badan jalan itu berupa tanah, berbatu, berlumpur, dan banyak kubangan air. Maklum, pada Sabtu (6/12/2025) malam di kawasan Desa Jipuhrapah hingga Desa Pojok Klitih habis diguyur hujan.
Jalan sepanjang sekitar 7 kilometer dipagari dengan tanaman liar dan pohon jati di sisi kiri dan sungai kecil di sisi kanan. “Ini jalan shirotol mustaqim,” tukas Soeharto mengomentari kondisi badan jalan di kawasan hutan jati di antara Desa Jipuhrapah hingga Desa Pojok Klitih.
Jika tak hati-hati dan tak mampu mengendalikan sepeda dengan baik, tak jarang goweser yang melalui jalan tanah dan berbatu di kawasan tersebut terpelanting, jatuh, dan mengalami luka-luka.
Apalagi di kawasan tersebut, goweser mesti melewati jembatan tua yang terbuat dari rel KA dan badan jembatan dari kayu jati tua. “Di jembatan Kedung Cinet ini bikin dag, dig, dug,” kata Atmaji dan Eko, keduanya pensiunan PT Petrokimia Gresik (Persero).
Tantangan gowes di kawasan hutan jati pada 11 desa di tiga kecamatan di Jombang bukan hanya pada jalan off road yang mesti dilalap. Ada tanjakan cukup tajam dan panjang di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan yang sangat menantang untuk dituntaskan. Jalur itu dikenal dengan sebutan tanjakan Watu Lawang.
“Cocok ini ada tanjakan. Moga tanjakan Watu Lawang cukup panjang, sehingga bisa mengetes kekuatan fisik kita,” tegas Tuhu yang diamini Ghozali, dua goweser WTC yang gandrung jalur tanjakan.
Jalur tanjakan sekitar 500 meter itu mampu ‘diselesaikan’ 12 goweser WTC dengan tuntas. Ada goweser yang mampu menyelesaikan tanjakan itu dengan enteng, tapi sebagian lainnya menyelesaikan tanjakan tersebut dengan nafas tersengal-sengal. “Lumayan berat, tanjakan tinggi, tajam, dan cukup panjang,” kata Ainur Rohim yang dibenarkan Eko dan Putut Nizam.
Tuntas menyelesaikan tanjakan Watu Lawang, para goweser dihadapkan pada trek datar dan menurun. ‘Bonus’ trek itu dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan memacu MTB masing-masing sekencang mungkin.
“Saat trek menurun, kecepatan sepeda kita 45 sampai 50 kilometer per jam,” ungkap Ghozali yang diamini Hengky dan Parno.
Beristirahat sekitar 20 menit di sebuah warung es degan di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, 12 goweser klub WTC kemudian melanjukan kayuh pedalnya melintasi trek datar, jalan beton semen, dan sebagian jalan beraspal di tengah terik sengatan matahari.
“Saat balik ke Kebonagung, terik sengatan matahari mulai terasa, menguras energi, wajah, dan leher belakang rasanya panas,” ujar Atmaji dan Nizam. Sekitar pukul 11.00 WIB, sebanyak 12 goweser klub WTC Gresik sampai di titik finish, di Posko Kades Kebonagung.
Secara keseluruhan, para penghobi gowes MTB ini puas dan menikmati trek di kawasan hutan jati di 11 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Jombang. “Rute dan trek ini bisa diulang. Syukur-syukur ada jalur lain yang trek tanjakan lebih panjang dan kawasan hutan lebih dominan,” tegas Parno yang diamini Tuhu dan Ghozali. [air]






