Surabaya (beritajatim.com) – Suasana baru terasa di panggung pertunjukan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Sabtu (6/12/2025).
Ludruk dan tari anak-anak Surabaya tampil dengan wajah berbeda berkat sentuhan teknologi video mapping dan tata audio interaktif yang membuat pertunjukan terasa lebih hidup.
Sebanyak 60 penari anak dari Sanggar Tari Pandu Siwi membawakan 12 tarian secara medley. Pertunjukan dilanjutkan dengan pementasan ludruk Sarip Tambak Oso oleh 20 anak dari Kampung Dolanan Surabaya.
Ketua tim peneliti PENS, Widi Sarinastiti mengatakan kegiatan ini merupakan penutup program pengabdian masyarakat Program Inovasi Seni Nusantara dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek.
“Sebelumnya kami menggelar pelatihan pembuatan video panggung dan software Resolume pada November lalu yang melibatkan mahasiswa PENS dan tim kreatif sanggar,” kata Widi, Minggu (7/12/2025).
Ia menambahkan, peserta pelatihan cukup aktif, namun pendampingan lanjutan masih dibutuhkan karena teknologi panggung hidup memerlukan pembiasaan.
Dalam pertunjukan ini, Resolume digunakan untuk menampilkan visual secara real-time yang disesuaikan dengan alur cerita, musik, dan gerak penampil.
“Motif batik, ilustrasi wayang, simbol budaya Jawa, hingga tekstur panggung ludruk kami proyeksikan secara dinamis. Teknologi ini memungkinkan visual berubah mengikuti narasi tanpa menghilangkan unsur tradisi,” ujar Widi.
Menurutnya, selama ini banyak pertunjukan masih menggunakan layar statis yang sulit diubah saat pementasan berlangsung. Dengan panggung hidup, visual dapat diganti secara langsung, lengkap dengan motion graphic dan pengaturan warna, cahaya, serta animasi yang mengikuti irama musik dan dialog.
Pemilik Sanggar Tari Pandu Siwi, Pujianti Catur Siwi mengaku senang anak didiknya bisa tampil dengan dukungan teknologi interaktif.
“Ini pengalaman pertama bagi anak-anak tampil di panggung indoor dengan visual, audio, dan lighting yang menyesuaikan tarian. Mereka jadi lebih bersemangat,” katanya.
Ia berharap kolaborasi semacam ini bisa berlanjut agar minat anak-anak terhadap seni tari dan pertunjukan tradisional terus tumbuh seiring pemanfaatan teknologi digital.
Sekadar informasi, kegiatan ini juga merupakan hasil kolaborasi dengan Universitas Ciputra Surabaya. [ipl/aje]






