Surabaya (beritajatim.com)-Adakah yang pernah merasa ingin dekat dengan seseorang tapi kamu justru kamu menjauh dan merasa takut untuk dekat dengan orang tersebut. Perlu kamu ketahui bahwa hal tersebut menjadi tanda bahwa kamu memiliki avoidant personality atau suatu kepribadian yang lebih menyukai untuk menghindar dari sosial karena takut ditolak, dinilai, atau disakiti.
Walaupun terlihat ramah, orang yang memiliki avoidant personality memiliki keraguan dan rasa tidak aman dalam hatinya. Untuk memahami hal tersebut, melansir dari artikel psikologi berikut ini adalah beberapa ciri sesseorang dengan avoidant personality yang biasanya terlihat dalam keseharian.
1. Takut Dinilai dan Dikritik
Orang yang memiliki avoidant personality biasanya merasa sensitifi dengan penilaian orang lain. Walaupun kritik tersebut merupakan kritik kecil, hal itu bisa terasa tajam dan menyakitkan untuk avoidant personality. Selain itu, avoidant personality biasanya sering menahan diri untuk menunjukkan kemampuan karena takut dianggap salah dan takut terliat bodoh. Bahkan sebelum melakukan percobaan, terkadang avoidant personality memikirkan berbagai skenario buruk sehingga dirinya merasa kurang percaya diri.
2. Menganggap Diri Tidak Layak Disukai
Avoidant personality terkadang menganggap kalau dirinya kurang menarik dan kurang berharga. Mereka yang memiliki avoidant personality cenderung takut untuk berteman dan bersosialisasi karena merasa insecure. Padahal, bisa saja orang lain tidak memiliki pikiran buruk terhadapnya. Namun, pikiran-pikiran buruk tersebut membuat avoidant personality merasa tidak layak untuk menerima apresiasi dan perhatian.
3. Sulit Membuka Diri secara Emosional
Avoidant personality cenderung menghindar dari interaksi sosial atau susah untuk membuka dirinya dengan orang lain, bahkan pada orang terdekatnya sekali pun. Bukan karena tidak ingin dekat dengan orang tersebut, melainkan avoidant personality merasa takut jika dirinya dikecewakan oleh orang lain atau orang terdekatnya. Mereka lebih memilih untuk membentengi diri agar dirinya lebih aman.
4. Memilih Menarik Diri dari Masalah
Dalam sebuah hubungan, masalah yang muncul merupakan suatu hal yang wajar dan perlu diselesaikan dengan komunikasi. Namun, avoidant personality lebih memilih untuk menghilang. Bagi mereka, menghindari lebih baik daripada menghadapi perbedaan pendapat yang bisa memusingkan diri sendiri. Hal ini dilakukan karena avoidant personality merasa takut terluka lebih dalam sehingga lebih memilih untuk tidak bertahan dalam hubungan tersebut.
5. Overthinking Setelah Bersosialisasi
Terkadang, setelah ngobrol di tongkrongan maupun di tempat lain, avoidant personality akan sibuk menganalisis ulang apa yangn terjadi. Mereka akan memikirkan setiap kata yang diucapkan dan juga reaksi orang lain. Interaksi sosial bisa menjadi beban mental bagi avoidant personality. Padahal, seharusnya tidak ada yang harus dipikirkan dan tidak harus merasa bersalah karena orang lain pun akan lupa dengan apa yang orang lain katakana.
6. Membutuhkan Waktu Lama untuk Percaya dengan Orang Lain
Bagi avoidant personality, epercayaan merupakan suatu hal yang bisa diberikan begitu saja. Mereka membutuhkan waktu dan proses untuk memastikan bahwa orang tersebut benar-benar cocok dan nyaman untuknya. Terkadang orang lain menganggap avoidant personality sebagai orang yang cuek atau tidak tertarik, padahal avoidant personality perlu bukti untuk memastikan bahwa hubungan tersebut aman.
Terkadang seseorang bisa merasa overthinking, takut dinilai, atau suka menarik diri saat lelah secara sosial Walaupun hal tersebut merupakan hal yang wajar, tapi jika itu muncuk terus-menerus hingga menghambat relasi dan perkembangan diri, mungkin itu tanda bahwa kamu punya pola avoidant yang kuat.
[Pranata Dewi Ratna Swari]






