Blitar (beritajatim.com) – Kabupaten Blitar sedang menghadapi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mengkhawatirkan. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa hingga saat ini, angka kasus DBD telah menembus 525, dengan 5 di antaranya menyebabkan kematian.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Miftahul Huda pun mengingatkan kembali masyarakat soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari jentik nyamuk aedes aegypti. Masyarakat pun diminta untuk menerapkan Gerakan 3M Plus secara disiplin.
“Ini harus memberantas sarang nyamuk secara bersama-sama tidak bisa sendiri-sendiri. Kalau menguras air juga harus sama-sama di satu lingkungan itu,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Miftahul Huda pada Jumat (28/11/2025).
Sebenarnya jumlah kasus DBD pada tahun 2025 ini jauh lebih kecil jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.359 dengan 10 penderita diantaranya meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2023 lalu jumlah kasus DBD hanya mencapai 238 dan tidak ada kematian yang terjadi.
Sementara pada tahun 2022 angka DBD di Kabupaten Blitar mencapai 390 kasus dengan total kematian mencapai 3 orang. Sedang pada tahun 2021 total kasus DBD di Kabupaten Blitar mencapai 140 dengan kematian mencapai 1 orang.
Dengan kondisi itu maka hampir setiap tahun ada warga Blitar yang meninggal akibat DBD. Tentu ini menjadi alarm serius bagi semua pihak untuk berbenah, masyarakat pun diminta untuk tidak mengandalkan fogging atau pengasapan untuk memberantas nyamuk.
“Jadi masyarakat harus memahami semua, kalau semua paham dan melakukan pencegahan saya kira trennya tak terus meningkat,” imbuhnya.
Menyikapi kondisi ini, Dinkes Kabupaten Blitar tak henti-hentinya mengkampanyekan kembali Gerakan 3M Plus. Masyarakat diminta untuk tidak menganggap remeh langkah-langkah sederhana namun sangat efektif ini:
- Menguras: Menguras dan menyikat tempat penampungan air seperti bak mandi, tandon air, vas bunga, dan tempat minum hewan peliharaan secara rutin, setidaknya seminggu sekali.
- Menutup: Menutup rapat semua tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur.
- Mendaur Ulang/Memanfaatkan Kembali: Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air, seperti ban bekas, kaleng, atau botol plastik.
Ditambahkan pula “Plus” yang berarti tindakan pencegahan tambahan seperti:
- Menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras.
- Menggunakan kelambu saat tidur.
- Memakai lotion anti nyamuk.
- Memelihara ikan pemakan jentik di kolam.
- Menanam tanaman pengusir nyamuk.
- Mengatur pencahayaan dan ventilasi rumah.
- Melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan secara rutin.
Dinkes juga mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala parah, nyeri sendi dan otot, nyeri di belakang mata, ruam kulit, serta mimisan atau gusi berdarah, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Deteksi dini dan penanganan yang cepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi serius dan kematian akibat DBD,” tandasnya. [owi/beq]






