Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni mengajak civitas akademika untuk kembali menengok nilai-nilai kepahlawanan yang kerap tenggelam di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Dia menyampaikan pandangannya dalam dialog bersama dosen dan mahasiswa tujuh fakultas Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) di gedung DPRD Surabaya.
“Kami berdiskusi mengenai penerapan nilai-nilai kepahlawanan zaman now,” ujar Fathoni, Rabu (26/11/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Fathoni menyebut mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agent of truth yang berani menjaga kejernihan informasi. Menurut dia, kepahlawanan generasi muda hari ini tidak lagi berbentuk perang fisik, melainkan kemampuan menjaga akal sehat publik.
“Peran mahasiswa sebagai agent of truth adalah bentuk kepahlawanan baru generasi muda,” ujar mantan aktivis LMND ini.
Dia menjelaskan keberagaman Indonesia merupakan kekuatan besar yang harus dijaga dalam situasi geopolitik dunia yang terus berubah. Menurutnya, posisi geografis Indonesia sangat strategis sehingga menjadi ruang perebutan pengaruh berbagai kekuatan global.
“Hal yang paling mungkin dilakukan adalah melemahkan kekuatan utama bangsa ini yakni persatuan dan kesatuan,” tegas politisi Golkar ini,
Fathoni melihat ancaman saat ini tidak lagi hadir melalui kekuatan militer, tetapi melalui serangan informasi yang merusak konsistensi sosial. Dia menilai disrupsi informasi yang masif di media sosial dapat melemahkan daya tahan bangsa bila tidak dihadapi dengan literasi yang kuat.
“Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, upaya melemahkan tidak lagi dilakukan dengan pengerahan militer asing, namun cukup dengan distorsi informasi dan disrupsi informasi yang disebar tanpa henti di ruang-ruang media sosial,” tuturnya.
Dia menggambarkan derasnya arus informasi yang dapat membuat masyarakat sulit membedakan fakta dan manipulasi. Di sinilah dia melihat peran strategis mahasiswa dalam menjaga keteguhan nalar publik.
“Untuk itu saya mengajak mahasiswa UWKS Surabaya tidak hanya sekedar menjadi agent of change, tapi juga menjadi agent of truth,” kata mantan jurnalis dan lawyer ini.
Menurut Fathoni, generasi muda dapat berkontribusi besar hanya dengan bermodal literasi digital dan perangkat yang mereka gunakan sehari-hari. Dia menilai kemampuan memilah informasi adalah bentuk kepeloporan yang relevan dengan tantangan zaman.
“Memberi kepeloporan dalam melakukan literasi digital hanya dengan segenggam gadget yang dimiliki, inilah salah satu implementasi nilai kepahlawanan zaman now,” katanya.
Dalam dialog itu, Fathoni juga membahas program Kampung Pancasila yang dijalankan Pemkot Surabaya sebagai ruang hidup nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Dia berharap konsep itu benar-benar menjadi ruang pembentukan karakter, bukan hanya menjadi tanda di gapura kampung.
“Di Surabaya upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kepahlawanan juga dilakukan dengan pembentukan Kampung Pancasila oleh Pemkot Surabaya,” ulasnya.
Fathoni menutup dialog dengan harapan agar Pancasila hadir secara nyata dalam relasi sosial warga Surabaya. Dia menggambarkan bahwa nilai kebangsaan tidak boleh berhenti sebagai wacana.
“Kami berharap melalui Kampung Pancasila ini kehidupan manusia sebagai makhluk sosial sebagaimana yang disebutkan Aristoteles, ideologi Pancasila dapat hidup dalam nadi relasi sosial antarwarga di setiap kampung,” pungkasnya.[asg/ted]






