Jember (beritajatim.com)- Tanoker Ledokombo dan PERPENCA Jember menyelenggarakan Pertemuan Multipihak Kabupaten Jember sebagai upaya memperkuat ekosistem layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Aula GKT Lantai 2 Universitas Islam Negeri KH. Ahmad Siddiq (UIN KHAS) Jember dan dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari unsur pemerintah daerah, OPD, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, lembaga keagamaan, media, serta komunitas penyandang disabilitas.
Kegiatan ini digelar sebagai respons atas berbagai tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di Kabupaten Jember. Berdasarkan data Dinas Sosial Jember (2024), terdapat lebih dari 7.000 penyandang disabilitas, dengan 23% di antaranya adalah anak dan remaja. Sementara itu, data BPS (2025) menunjukkan bahwa prevalensi kusta di Jember masih termasuk tinggi, terutama di wilayah Ambulu, Puger, dan Wuluhan, yang berdampak pada tumbuh kembang anak dari keluarga penyintas kusta.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Direktur Tanoker, Dra. Farha Abdul Kadir Assegaf, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa isu disabilitas harus menjadi agenda prioritas pembangunan. “Masalah disabilitas tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Kita perlu membangun kerja sama lintas sektor untuk memastikan pemenuhan hak-hak dasar anak dan remaja penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ketua PERPENCA Jember, M. Zainuri Rofi’i, S.Pd, menegaskan bahwa pertemuan multipihak ini merupakan langkah penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas disabilitas.
“Kolaborasi bukan sekadar metode kerja, tetapi sebuah kebutuhan. Anak dan remaja disabilitas adalah subjek pembangunan, bukan objek belas kasihan. Mereka punya potensi besar yang harus diberi ruang untuk berkembang,” jelasnya.
Rangkaian Kegiatan
Selama dua hari, peserta mengikuti sejumlah agenda seperti:
1. Opening Ceremony
2. Brainstorming multipihak
3. Bermain peran RBM (Role Based Method)
4. Collaborative Game
5. Dialog interaktif bersama OPD terkait dan pegiat disabilitas
6. Pemutaran film pendek dan video inspiratif tentang penggerak disabilitas
Forum ini juga menjadi ruang bertukar perspektif, mengidentifikasi tantangan layanan disabilitas di berbagai sektor, serta menyusun gagasan strategis berbasis kearifan lokal Jember.
Tujuan dan Hasil yang Diharapkan
Melalui kegiatan ini, Tanoker dan PERPENCA menargetkan:
1. Membangun kesamaan pandangan dalam penguatan kerja sama lintas sektor.
2. Mendapatkan dukungan aktif dari pemangku kepentingan dalam memperkuat layanan inklusif.
3. Mengidentifikasi praktik baik pemberdayaan penyandang disabilitas yang dapat direplikasi.
4. Mendorong komitmen berkelanjutan dari semua pihak untuk memperkuat keberdayaan dan kemandirian anak dan remaja penyandang disabilitas.
Peserta yang Hadir
Peserta berasal dari berbagai lembaga di antaranya:
UIN KHAS Jember, Bappeda, DPRD Komisi D, Disabilitas Jember, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, DP3AKB, Dispora, Dinas Koperasi dan UMKM, Bakorwil, Kemenag, Pengadilan Agama, Forum CSR Jember, Fatayat, Muslimat, GUSDURian, AJI, PWI, organisasi penyandang disabilitas (HWDI, Pertuni, Gerkatin), hingga tokoh masyarakat dari wilayah dampingan Tanoker.
Meneguhkan Komitmen Bersama
Kegiatan ditutup dengan pernyataan komitmen untuk memperkuat upaya inklusi secara berkelanjutan. Melalui forum multipihak ini, diharapkan lahir sinergi baru yang lebih kuat sehingga Jember dapat menjadi kabupaten yang ramah disabilitas dan mendukung tumbuh kembang anak serta remaja secara bermartabat dan berdaya. [Farha Ciciek]






