Malang (beritajatim.com) – Dunia pendidikan vokasi Indonesia tengah menghadapi tantangan besar di era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Mahasiswa tidak lagi cukup hanya bermodal keahlian teknis, namun dituntut memiliki kemampuan adaptasi (adaptive ability) yang tinggi.
Menjawab tantangan ini, tim Universitas Negeri Malang (UM) tampil sebagai motor utama dalam kolaborasi Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) tahun 2025, menghadirkan terobosan pembelajaran berbasis Metaverse yang terintegrasi dengan Project-Based Deep Learning (PBL).
Meski secara administratif riset ini di-host oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), peran UM dinilai sangat krusial dalam merancang desain pedagogis dan konten digital. Kolaborasi strategis ini juga menggandeng Universitas Terbuka (UT) dan Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), menyatukan kepakaran nasional dan internasional demi mencetak lulusan yang relevan dengan Industri 4.0 dan 5.0.
Ketua Tim UM, Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd., menegaskan bahwa urgensi riset ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengubah pola ajar konvensional. Menurutnya, mahasiswa vokasi saat ini memang akrab dengan teknologi digital, namun seringkali kurang mendapatkan pengalaman belajar mendalam yang memungkinkan mereka mengambil keputusan dalam situasi industri nyata.
“Pembelajaran vokasi harus beranjak dari pola transfer informasi menuju pengalaman belajar yang benar-benar melibatkan mahasiswa. Metaverse memberi ruang untuk menghadirkan pengalaman itu,” ujar Prof. Eddy, Senin (24/11/2025).
Ia menambahkan, keterlibatan UM dalam proyek ini bukan sekadar pelengkap, melainkan kontributor kunci. UM membawa cetak biru pengembangan pedagogi vokasi yang telah lama dikaji untuk diterapkan dalam sistem berskala nasional ini.
Dalam aspek teknologi, dosen muda UM sekaligus pakar teknologi pembelajaran, Andika Bagus N.R.P., M.Pd., memainkan peran sentral. Andika sukses mengembangkan prototipe ruang metaverse yang berfungsi sebagai lingkungan belajar interaktif.
Berbeda dengan platform virtual biasa, prototipe rancangan UM ini didesain dengan prinsip konstruktivisme. Mahasiswa tidak hanya berjalan-jalan di dunia maya, tetapi dituntut menjalankan aktivitas PBL secara penuh, mulai dari diskusi tim, eksplorasi objek teknis, simulasi industri, hingga presentasi proyek.
“Mahasiswa dibiasakan belajar melalui pengalaman, bukan hanya teori. Dalam metaverse, mereka harus berinteraksi, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan membangun pemahaman secara aktif,” jelas Andika.
Keberhasilan inovasi ini tidak hanya berupa klaim, melainkan didukung oleh data lapangan. Berdasarkan kuesioner yang disebar kepada dosen dan mahasiswa, aspek konstruktivistik dan peningkatan adaptive ability meraih skor rata-rata 3,56. Sementara itu, pendekatan Project-Based Deep Learning mendapatkan skor 3,57.
Angka ini mengindikasikan bahwa mahasiswa merasa lebih mudah memahami materi kompleks melalui proyek virtual, lebih percaya diri saat presentasi, dan lebih terampil dalam kolaborasi tim.
Kualitas inovasi yang didorong oleh UM ini mendapat apresiasi dari mitra kolaborasi. Ketua Host dari UNY, Dr. Ir. Bayu Rahmat Setiadi, M.Pd., secara terbuka mengakui peran vital UM.
“UM memberikan fondasi kuat, terutama dalam integrasi pedagogi vokasional dan teknologi belajar. Tanpa kontribusi UM, prototipe ini tidak akan sesempurna sekarang,” ungkap Bayu.
Senada dengan Bayu, Prof. Dr. Amalia Sapriati, M.A. dari Universitas Terbuka menilai metaverse ini sangat efektif sebagai alat asesmen proses.
“Di sini, mahasiswa dinilai berdasarkan keputusan yang mereka ambil dan sikap kolaborasi mereka. Itulah yang kita butuhkan untuk era AI,” tuturnya.
Dari kacamata internasional, Prof. Madya Yee Mei Heong, Ph.D. dari UTHM Malaysia memuji spesifikasi ruang virtual yang dihasilkan. Menurut pakar XR (Extended Reality) ini, UM berhasil menciptakan lingkungan yang tidak generik.
“Banyak platform metaverse di luar negeri bersifat umum, tetapi UM merancang lingkungan khusus yang dekat dengan kebutuhan industri teknikal. Ini nilai strategis yang jarang ditemukan,” kata Yee Mei Heong.
Hingga kini, seluruh target riset RKI tersebut telah tercapai 100 persen, mulai dari pemetaan kebutuhan, pengembangan aplikasi, uji ahli, hingga publikasi ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Capaian ini mengukuhkan posisi UM sebagai pusat inovasi pembelajaran vokasi digital di Indonesia. Ke depan, Prof. Eddy Sutadji memastikan hasil riset ini akan diintegrasikan langsung ke dalam ruang-ruang kelas.
“Inovasi hanya berarti jika digunakan. Kami ingin memastikan mahasiswa UM turut merasakan manfaat dari riset ini,” pungkasnya. [dan/beq]







