Surabaya (beritajatim.com)- Banyak orang tumbuh dengan pemikiran bahwa menjadi pribadi yang selalu menyenangkan adalah hal baik. Kita diajari untuk membantu, menolong, dan berbuat baik kepada siapa pun.
Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, masalah muncul ketika kebaikan berubah menjadi keharusan, ketika kamu merasa wajib memenuhi keinginan orang lain meskipun harus mengorbankan diri sendiri. Hal inilah yang biasa disebut dengan people pleaser.
Melansi dari jurnal psikologi, berikut lima kerugian ketika kamu menjadi people pleaser yang jarang disadari, tetapi berdampak besar dalam hidup.
1. Kehilangan Batasan Diri
Kerugian pertama yang paling sering dialami people pleaser adalah hilangnya batasan pribadi. Orang yang selalu ingin menyenangkan cenderung kesulitan untuk menolak, bahkan ketika permintaan yang datang sebenarnya tidak realistis atau membuatnya tertekan. Akhirnya, mereka menerima terlalu banyak tanggung jawab yang bukan milik mereka. Ketika batasan diri hilang, kamu akan lebih mudah merasa kewalahan.
2. Mudah Dimanfaatkan Orang Lain
Tidak semua orang memanfaatkanmu dengan niat jahat. Ada yang melakukan itu tanpa sadar, karena mereka tahu kamu tipe yang tidak pernah menolak. Tapi ada juga orang yang memang sengaja memanfaatkan sifat people pleaser untuk keuntungan mereka sendiri. Ketika kamu terlalu banyak mengalah, orang lain menjadi terbiasa melihatmu sebagai tempat bergantung.
3. Menumpuk Stres dan Kelelahan
People pleaser sering terlihat tenang di luar, tetapi menyimpan tekanan besar di dalam. Kebiasaan memprioritaskan orang lain membuatmu sulit punya waktu untuk merawat diri sendiri. Kamu lebih dulu memikirkan bagaimana membuat orang lain senang, baru memikirkan kebutuhan pribadi ketika sudah kelelahan. Tekanan ini bisa menumpuk menjadi stres jangka panjang. Kamu bisa jadi lebih mudah marah, lebih sensitif, atau sering merasa tidak berdaya.
4. Kehilangan Jati Diri
Salah satu kerugian terbesar menjadi people pleaser adalah hilangnya jati diri. Ketika terlalu sering mengikuti keinginan orang lain, kamu lama-lama lupa apa yang sebenarnya kamu sukai. Kamu menyesuaikan diri dengan standar orang lain agar diterima, sampai-sampai kamu tidak tahu lagi apa kebutuhan dan keinginanmu. People pleaser cenderung merasa nyaman ketika membuat orang lain bahagia. Tapi ketika semua keputusan hidup didasari dengan pemikiran tersebut, kamu kehilangan arah hidup.
5. Hubungan Jadi Tidak Sehat
Kerugian terakhir adalah rusaknya kualitas hubungan. Hubungan yang dibangun dari rasa takut mengecewakan biasanya tidak seimbang. Kamu terus memberi, orang lain terus menerima. Ini menciptakan dinamika yang tidak sehat, bahkan mungkin merusak. Hubungan seperti ini bisa membuat kamu merasa tidak dihargai, tidak didengarkan, atau dianggap selalu kuat padahal kamu juga butuh bantuan.
People pleaser bukan kebiasaan buruk, tetapi kebiasaan yang perlu diarahkan. Kamu tetap bisa menjadi pribadi yang peduli tanpa kehilangan diri sendiri. Mulailah dari hal kecil seperti belajar mengatakan tidak, memberi jarak ketika perlu, dan memahami bahwa kamu juga berhak diprioritaskan.
[Pranata Dewi Ratna Swari]






