Malang (beritajatim.com) – Dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan baru dengan hadirnya Lumina Generation, generasi pelajar yang tumbuh dalam lingkungan digital hiper-koneksi dengan interaksi lintas budaya yang kompleks. Menjawab tantangan ini, kolaborasi perguruan tinggi Indonesia dan Jepang menghadirkan terobosan teknologi melalui skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) 2025.
Dalam proyek bertajuk “Neural VR-Simulation: Cyber Trainer Metaverse Berkonsep Dementia Learning”, tim Universitas Negeri Malang (UM) memainkan peran kunci sebagai pengembang teknologi inti. Riset ini bertujuan memperkuat cultural intelligence (kecerdasan budaya) mahasiswa calon guru agar siap menghadapi dinamika siswa di masa depan.
Proyek nasional ini di-host oleh Universitas Airlangga (Unair) di bawah pimpinan Dianis Wulan Sari, S.Kep., Ns., MHS., Ph.D., dengan fokus pada aspek kesehatan mental dan adaptasi sosial. Universitas Indonesia (UI), melalui tim Dr. Etty Rekawati, S.Kp., M.K.M., memberikan fondasi psikologi lintas budaya.
Sementara itu, Tokyo University berperan sebagai validator teori dementia learning. Kemudian tim riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut membantu sebagai developer setiap komponen pada aplikasi
Meski berstatus mitra, peran Universitas Negeri Malang (UM) cukup penting. Tim UM berfokus pada pengembangan aplikasi untuk disinkronkan pada media pembelajaran bagi para calon guru.
Ketua Peneliti Tim UM, Harits Ar Rosyid, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tergolong revolusioner dalam dunia pendidikan guru. Teknologi ini mengadopsi konsep dementia learning, yakni model pembelajaran yang mengajak pengguna merasakan pengalaman kehilangan memori, kebingungan spasial, dan hambatan kognitif.
Harits menegaskan, konsep ini bukan untuk meniru kondisi medis semata, melainkan sebagai pintu masuk untuk membangun empati mendalam.
“Mahasiswa calon guru perlu memahami bahwa murid tidak selalu datang dari latar belakang yang stabil secara sosial, emosional, atau kognitif. Lewat simulasi dementia learning, mereka diajak merasakan bagaimana rasanya menjadi individu yang kehilangan orientasi, tidak paham konteks budaya, atau kesulitan memahami isyarat sosial,” ungkap Harits.
Pengalaman imersif tersebut terbukti membuat mahasiswa lebih peka terhadap perbedaan dan siap mengajar di lingkungan multikultural.
Pengembangan ekosistem digital dalam riset ini dikawal oleh Andika Bagus N.R.P., M.Pd., dosen muda UM yang dikenal sebagai pakar metaverse. Andika merancang cyber trainer metaverse, sebuah ruang belajar virtual di mana mahasiswa dapat menjalankan simulasi interaksi antarbudaya secara nyata.
Menurut Andika, inovasi ini memiliki diferensiasi kuat dibandingkan VR pendidikan pada umumnya yang hanya berfokus pada materi kognitif.
“Kami tidak sekadar membuat VR dengan visual menarik. Fokus kami adalah membangun experience yang membuat mahasiswa benar-benar memahami konteks budaya, pesan non-verbal, dan dinamika psikologis. VR-Simulation ini menekankan kompetensi afektif seperti empati dan kesadaran diri,” jelas Andika pada beritajatim.com, (Senin, 24/11/2025).
Berdasarkan laporan penelitian, prototipe awal Neural VR-Simulation ini telah memperoleh nilai kelayakan tinggi. Uji coba yang dilakukan terhadap mahasiswa calon guru di area Malang dan Surabaya menunjukkan hasil positif.
Mahasiswa melaporkan bahwa pengalaman kehilangan orientasi dalam simulasi membuat mereka lebih reflektif, sabar, dan selektif dalam memilih strategi komunikasi. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan cultural intelligence, kompetensi krusial bagi guru yang akan mendidik generasi Lumina.
Harits Ar Rosyid menutup dengan optimisme bahwa riset ini membuktikan kesiapan UM dalam memimpin inovasi teknologi pendidikan.
“UM punya visi besar untuk melahirkan calon guru yang tidak hanya profesional secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan budaya dan empati tinggi. Riset ini adalah bukti bahwa UM siap memasuki era pembelajaran berbasis neuro-simulasi dan metaverse,” pungkasnya. [dan/beq]






